09
Jan
09

Lahirnya PKI: Fajar Merah Di Balik Bulan Sabit

bulan-sabitLiburan akhir tahun 2008 kemarin aku pulang ke semarang, tak sengaja pas lagi bongkar-bongkar saya menemukan sebuah majalah yang memuat tulisan berjudul “Fajar Merah di Semarang”. Yang intinya menceritakan sejarah kelahiran PKI yang memang awalnya bersemai di kota Semarang. Seperti diceritakan oleh beberapa penulis yang lain bahwa bibit perkembangan komunis bersemai di dalam tubuh Sarekat Islam (SI), sebuah organisasi kemasyarakatan terbesar saat itu. Bukan sebuah sesuatu yang aneh mengapa pemikiran-pemikiran Marx ini bisa bersemai di tubuh SI, karena SI saat itu memang organisasi pribumi yang sebagian besar anggotanya adalah orang-orang pribumi yang memang miskin sebagai warga negara kelas 3 di bumi nusantara. Bahkan kata “Islam” sengaja dipilih oleh pendirinya (awalnya SDI) karena ingin merangkul seluruh kelompok, suku, dan ras kelas pribumi yang memang mayoritas beragama islam, agamanya kaum pribumi, kaum yg tertindas. Saat itu Islam menjadi identitas kaum pribumi, menjadi identitas kebangsaan bersama kaum pribumi di manapun sebelum nama Indonesia dikenal.

Maka dari itu anggota SI kebanyakan adalah rakyat jelata dan sebagian kecil pribumi dari golongan priayi dan gerakan-gerakan SI tentu sangat berorientasi kepada rakyat jelata. Media yang dibuat oleh SI, “Medan Merdeka” banyak mengangkat kasus-kasus penindasan terhadap pribumi oleh penduduk kelas 1, para menir belanda, juga beberapa kasus perselisihan dengan penduduk kelas 2, yaitu orang-orang timur jauh, terutama sering berselisih dg orang-orang keturunan Cina. Orientasi SI yang sangat merakyat ini lah yang membuat SI begitu dekat dengan rakyat jelata dan menjadi (sekali lagi) organisasi terbesar di bumi Indonesia.

Perkembangan SI yang pesat ini yang membuat begitu banyak tokoh-tokoh pergerakan Indonesia begitu berkepentingan untuk berperan di dalamnya, begitu pula dengan Tan Malaka. Tan Malaka sebagai seorang guru tinggal di Semarang untuk membuat sekolah gratis untuk rakyat, sebagai jawaban atas penindasan dan diskriminasi pendidikan oleh pemerintah kolonial. Di sebuah novel diceritakan sangat romantis betapa perjuangan ini sangat menggugah rakyat umum, sambutan rakyat menyekolahkan anak-anaknya sangat besar, dan bagaimana murid-murid sekolahan tersebut harus ‘ngamen’ untuk mendapat biaya bagi kelangsungan sekolah dengan menyanyikan mars komunis internasional “Internationale”.

Inilah yang membuat warna SI Semarang menjadi merah, di artikel itu diceritakan juga mengapa Semarang bisa dipilih sebagai persemaian bibit komunis karena adanya industrialisasi oleh Belanda sehingga merubah struktur masyarakat, kondisi tersebut menjerat masyarakat bawah yg tentu saja menjadi buruh-buruh dengan gaji rendah. Bahkan perkebunan tebu, yang menjadi komoditi utama saat itu, telah menggeser persawahan sehingga rakyat kelaparan karena beras tak banyak dihasilkan. Kondisi seperti itu mendukung radikalisasi rakyat dan ide-ide komunis sangat pas dan wadahnya tentu saja SI yang menjadi organisasi rakyat.

Sebenarnya pada awalnya komunis diterima dalam komunitas Islam, khususnya dalam tubuh SI. Aku kira ini sebuah kebesaran hati yang bagus, karena mereka memiliki sebuah pikiran yang sama yaitu membela rakyat yang tertindas. Sampai pada titik tertentu kaum komunis mulai pongah di dalam tubuh SI dengan mengusulkan perubahan asas Islam menjadi komunis dengan alasan bisa menjangkau rakyat di timur nusantara yang bukan muslim. Bahkan, di sebuah catatan menceritakan kongres SI di Madiun, Jawa Timur, kelompok komunis dalam tubuh SI mengganti atribut SI di lokasi dengan atribut palu arit. Hal tersebut jelas memancing kemarahan para tetua SI, sehingga pd saat itu hrs mengambil atribut SI dari Jogja untuk dipasang di lokasi kongres. Friksi antara kelompok SI putih dan merah semakin meruncing, berujung pembersihan SI dari orang-orang komunis yang banyak ditulis di buku-buku sejarah. Yang kemudian lahirlah Partai Komunis Hindia, kemudian Partai Komunis Indonesia, yang pentolannya adalah orang-orang SI sebelumnya.

***

Bila melihat sejarah maka nampak sangat dekat hubungan palu arit dan bulan sabit. Ada yang sama yaitu pemihakan perjuangan pada rakyat yang tertindas. Waktu yang akan membuktikan siapa-siapa yang tetap berjuang untuk melawan penindasan, keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan. Dan, siapa-siapa yang telah berselingkuh dengan kekuasaan yang bergandengan tangan dengan agen-agen kolonial model baru dan kembali menindas rakyat jelata.


1 Response to “Lahirnya PKI: Fajar Merah Di Balik Bulan Sabit”


  1. 1 adab
    December 9, 2009 at 12:12 am

    nice info gan..
    kobar fajar merah🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: