11
Dec
09

Testimoni 2012


Film 2012 berhasil membuat penasaran ribuan penonton di Indonesia. Antrian di depan loket dimana-mana membuat barisan panjang. Film ini dibuat oleh Hollywood berdasar pada prediksi kuno dari suku Maya bahwa akan terjadi akhir dunia pada tanggal 21 Desember 2012. Film ini menggambarkan adanya ‘kiamat’ pada tahun 2012, dimana Bumi beraktifitas jauh diatas normal, terjadi pergerakan kerak bumi yang luar biasa hingga menyebabkan posisi benua bergesar dan tentu saja membuat bencana dasyat bagi manusia yang tinggal diatasnya. Mengapa saya tulis di ‘kiamat’ bukan kiamat, karena di film ini sejatinya memang tidak menggambarkan kiamat, yang artinya berakhirnya kehidupan dunia. Saya pun berfikir, bagaimana mungkin membuat film kiamat, kiamat itu berarti tak ada lagi kehidupan yang tersisa, bagaimana mungkin membuat sebuah film yang berakhir tanpa seorang pun dan kehancuran alam semesta. Prediksi saya benar, ternyata film ini bukan film kiamat, tetapi hanya sebuah bencana sangat besar yang cukup kita sebut ‘kiamat’.

Kekhawatiran MUI tentang peredaran film ini bisa dipahami yaitu alasa kiamat yang tak bisa terprediksikan oleh siapapun karena itu hak prerogratif Allah SWT. Tentu kita semua umat muslim paham hal itu, dan itu menjadi bagian dari keberimanan umat terhadap Allah SWT. Saya pikir tidak ada seorangpun yang mau ‘mengkiamatkan’ diri sendiri, lebih-lebih hanya karena menonton film ini, dan hal ini juga tidak perlu khawatir karena ini hanyalah film ‘kiamat’ bukan kiamat. Tidak ada sebuah gambaran dimana melampaui kekuasaan Allah SWT. Hanya menggambarkan sebuah kondisi alam semesta dimana terjadi aktifitas tektonik dan vulkanik luar biasa yang membuat aktifitas kerak bumi yang ekstrim. Kekhawatiran MUI bahkan ada fatwa haram di beberapa MUI daerah tentu sangat tidak berdasar yang menimbulkan pertanyaan bagi saya, jangan-jangan MUI (yang mengharamkan) belum nonton film tersebut.

Hanya film ‘kiamat’

Seperti saya tulis di atas, 2012 hanya film ‘kiamat’ dan bukan film kiamat, karena memang substansi kiamat tidak ada di situ. Hanya ada bencana super dasyat yang dihadapi oleh umat manusia, bukan kehancuran dunia seisinya yang berarti kiamat. Bahkan dalam film tersebut bencana ini sudah bisa diprediksikan sebelumnya oleh para ahli geologi dan astrofisika. Dimulai dari adanya ledakan besar di matahari yang memancarkan radiasi kuat sehingga memancing aktifitas bumi yang abnormal. Gejala aktifitas bumi abnormal ini terdeteksi dimana-mana sehingga para ahli sudah bisa memprediksikan akan terjadi sebuah gerakan kerak bumi yang kuat bahkan hingga bergeser sehingga posisi benua berubah.

Di film ini masih mengedepankan knowledge superiority, dimana pengetahuan memegang peran utama. Dalam konteks Indonesia saya sangat sepakat dengan hal ini, dimana masyarakat masih banyak yang mengedepankan klenik ataupun prasangka, juga gosip murahan. Pada film itu digambarkan bagaimana ilmu pengetahuan berperan betul dalam menghadapi ‘kiamat’. Dari prediksi awal, lalu berbagai penelitian lanjutan untuk menganalisis fenomena alam yang ada, hingga pembuatan bahtera yang luar biasa besar untuk evakuasi manusia dalam menghadapi bencana tersebut. Film ini lebih mengingatkan kita pada kisah Nabi Nuh, dimana ia membuat bahtera besar untuk menyelematkan manusia dan mengangkut semua jenis hewan, begitu pula bahtera besar yang digambarkan di film 2012 ini. Meski nampaknya sama besar tapi di film 2012 ini bahteranya tidak lagi menggunakan kayu seperti buatan Nabi Nuh melainkan terbuat dari baja, tertutup seperti kapal selam, dan dilengkapi dengan berbagai mesin besar dan peralatan canggih. Semua itu dibuat karena adanya sebuah pengetahuan, sebuah ilmu, dan teknologi yang bisa memprediksikan sebuah bencana kemudia manusia bisa membuat langkah preventif dari situ.

Film 2012 lebih cocok dikategorikan sebagai film fiksi-ilmiah. Film ini lebih mirip film ‘star trek’ dimana film fiksi sebenarnya tetapi alur di dalamnya dibangun di atas alur pengetahuan yang sudah banyak dikenal tetapi pada konteks yang lebih maju dan tentunya itu fiksi. Pada star trek digambarkan kondisi umat manusia tak lagi hidup di bumi tetapi telah berada petualangan antariksa dan pada film 2012 pada kondisi dimana bumi terkena fenomena matahari yang kemudian memancing aktifitas perut bumi yang dasyat. Dalam film-film ini memancing daya imajinasi penonton dan berbagai masalah yang ada itu dijawab oleh pengetahuan dan ilmu manusia. Bukan dengan klenik, bukan dengan prasangka, tetapi menjawab persoalan besar dengan sebuah ilmu yang komprehensif.

Pengembangan pengetahuan, ilmu, dan teknologi hari ini berangkat dari sebuah imajinasi besar manusia dan didorong oleh sebuah niat kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Maka dari itu banyak teknologi yang dianggap biasa sekarang dulunya berangkat dari sebuah impian besar, seperti keinginan untuk terbang, dan hari ini pesawat terbang adalah hal biasa. Film 2012 adalah film tentang bencana tetapi disitu menggambarkan bagaimana usaha manusia dalam menghadapi bencana luar biasa dasyat dengan kemampuannya. Saya pikir ini sebuah gambaran bagaimana manusia menghadapi bencana dasyat dan film ini bisa menjadi titik tolak manusia berpikir jika benar-benar sebuah bencana besar akan terjadi.

Menonton film fiksi-ilmiah seperti 2012 ini jauh lebih produktif dari pada menonton film yang bertema hantu. Bisa diprediksikan apa yang tersisa dari menonton film-film bertema hantu, bayangan wajah seram, suasana temaram mencekam, dan ceceran darah. Jauh dari landasan sains, bahkan secara psikologis juga tak menyisakan sesuatu yang positif bagi penontonnya. Cukup menjadi hiburan bagi penonton yang senang dengan sesuatu cerita-cerita misteri tapi selanjutnya tidak ada. Bila memang bangsa ini masih sadar akan ketertinggalannya dalam dunia pengetahuan, ilmu, dan teknologi, maka ada baiknya disusun sebuah agenda besar dimana hal tersebut mendorong masyarakatnya untuk mencintai pengetahuan itu sendiri, mendorong masyarakatnya terbiasa berfikir logis, sadar akan teknologi, dan selanjutnya mendorong masyarakat melakukan penelitian-penelitian keilmuwan, juga menciptakan teknologi-teknologi baru. Agenda besar itu tidak hanya dijalankan di dalam bangku-bangku sekolah dan kuliah tapi juga harus masuk ke ranah budaya, khususnya sinema dalam hal ini.

Larangan MUI

Adanya dua MUI daerah yang mengeluarkan fatwa harap soal film 2012 tentu membuat pertanyaan besar. Saya pikir MUI terlalu cepat mengambil sikap tanpa melihat utuh bagaimana adanya film ini. Permasalahan kiamat seperti yang diisyaratkan dalam agama Islam jelas bukan yang ingin digambarkan dalam film ini, jadi bila tema kiamat diributkan tentu tak beralasan. MUI harus lebih jeli jika ingin mengeluarkan sikap atau fatwa, karena itu mencerminkan kapasitas dan visi orang-orang yang ada di dalamnya.

Masih banyak film lain yang jauh lebih tak bermutu dan tidak memberikan efek positif pada umat, tetapi MUI tak pernah bersikap. Film-film bernuansa takhayul, opera sabun tak mendidik yang telah seakan menjadi menu wajib masyarakat tak pernah dibicarakan oleh MUI. Tiba-tiba saja MUI berbicara tentang sebuah film fiksi-ilmiah yang menceritakan ‘kiamat’ dengan penilaian haram. Parameter kredibilitas MUI mudah saja untuk ditakar yaitu dengan melihat sejauh mana fatwanya dikeluarkan didengar oleh masyarakat. Seperti fatwa haram MUI tentang film 2012 hari ini tak banyak didengar oleh umat, antrian tetap panjang di banyak bioskop di Indonesia.

Seharusnya MUI lebih luas memandang ketika akan mengeluarkan sikap sekelas fatwa, yang seharusnya ditaati oleh umat. Bagi saya pribadi, jika ada orang yang mengatakan bahwa 2012 adalah kiamat tentu hanya akan jadi bahan tertawaan saja, mungkin tak hanya saya begitu juga banyak orang yang lain. Masyarakat jauh lebih kritis hari ini, tak bisa percaya pada omongan begitu saja. Informasi jauh lebih mudah diperoleh hari ini, masyarakat bisa melakukan kroscek tentang apa yang didengar dengan mudah. Pada kenyataanya film 2012 bukan film kiamat dan telah ribuan orang nonton kekhawatiran MUI sama sekali tak terbukti. Saya tidak pernah mendengar ada komentar yang mencerminkan percaya pada ‘kiamat’ yang digambarkan oleh film tersebut, malah ada cerita teman yang telah nonton film tersebut menjadi rajin pergi ke pengajian, bukan karena percaya akan kiamat 2012 tetapi karena sadar bahwa kecilnya manusia jika alam ini telah marah.

Nampak terlalu kecil MUI jika terus meributkan soal film 2012, masih banyak masalah nyata umat yang harus disikapi oleh MUI. Fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI harusnya fatwa-fatwa yang mendorong kebaikan umat dari segala sisi kehidupan. Fatwa MUI harusnya mampu menjadi pendorong kemajuan umat walau mungkin masih di tataran kultural, tetapi setidaknya itu menjadi energi positif bagi umat. Jika sikap MUI sekelas fatwa hanya menjadi bahan candaan masyarakat karena kurang cermatnya para ulama yang ada di dalamnya tentu akan memalukan lembaga MUI secara khusus dan umat Islam Indonesia secara umum. MUI sebagai lembaga formal tertinggi Umat Islam Indonesia harusnya terbiasa mengambil sikap dengan mempertimbangkan berbagai perspektif dan sebisa mungkin fatwa adalah energi positif untuk masyarakat luas. Apa yang dibicarakan di MUI jangan hanya perbincangan yang berada di menara gading, padahal di sisi lain banyak masalah yang dirasakan oleh umat seperti kemiskinan, ketertinggalan, dan rasa keadilan yang hilang di tengah masyarakat Indonesia. Fatwa MUI sudah seharusnya mampu menjawab berbagai masalah umat tersebut bukan malah membingungkan masyarakat.

Film 2012 hanya sekedar film fiksi-ilmiah yang menarik. Film yang menceritakan dasyatnya fenomena alam yang harus dijawab oleh umat manusia. Di film tersebut digambarkan secara manusiawi bagaimana umat manusia yang ketakutan menghadapi informasi bencana besar yang akan terjadi. Kemudian di film itu juga menggambarkan usaha manusia yang menjawab dasyatnya bencana dengan teknologi dan bagaimana teknologi itu harus bersinggungan dengan dengan materi, bagaimana interaksi teknologi pada ranah sosial-politik yang elitis. Bagi yang suka dengan ilmu alam, seperti fisika, geologi, dan astronomi film ini sangat menggelitik untuk ditonton.


0 Responses to “”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: