05
Jan
10

Antara Gus Dur dan Cak Nur

Jujur, berita meninggalnya Gus Dur kemarin tak seperti ketika saya mendengar berita meninggalnya Cak Nur. Saya menerima berita meninggalnya Cak Nur pertama kali melalui sms yang dikirim oleh senior yang saya baca sekitar ashar, seketika setelah terbangun dari tidur karena kelelahan di sekretariat HMI Cabang Bulaksumur. Begitu saya bangun dan membaca sms meninggalnya Cak Nur saat itu pula terasa kaku seluruh badan ini, dan ada sesuatu yang menyentak di dada, sesaat merasa linglung tak percaya. Mungkin itulah karena adanya hubungan emosional, walaupun hanya sekali bertemu beliau di forum terbuka (seminar) tapi saya menggemari tulisan-tulisan Almarhum Cak Nur.

Nurcholis Madjid

Menurut saya, tulisan-tulisan Cak Nur selalu mengajak untuk kita menengok Islam pada tataran yang substantif, sejenak melupakan simbol dan lambang-lambang yang sering dipakai dalam keseharian. Sehingga kita memandang Islam lebih jernih dan akhirnya bisa mengamalkan Islam secara lebih mendalam secara pribadi dan secara sosial tidak sektarian. Kombinasi pikiran Cak Nur yang berdasar pada pemikiran Islam klasik kemudian dikontekskan pada kondisi kekinian Indonesia melahirkan sebuah sintesis pemikiran Ke-Indonesia-an yang menarik. Hal tersebut nampak dari beberapa ungkapan yang masih saja kontroversial hingga hari ini seperti “Islam YES, partai Islam NO” dan “sekulerisasi”. Padahal Cak Nur sering menjelaskan di berbagai forum juga tulisan-tulisannya justru beliau ingin memurnikan Islam (berbeda arti dengan pemurnian-puritan-wahabiah) dan menempatkan Islam pada “maqam-nya” (pada posisinya yang agung), sehingga Tuhan, Allah SWT, tidak diklaim oleh kelompok tertentu lebih-lebih partai politik tertentu dan Cak Nur tak henti-hentinya meyakinkan pada kita semua bahwa Islam bisa menjadi (memang seharusnya menjadi) dasar bagi semua Umat Manusia di Bumi.

Kalau saya tidak salah ingat, di tulisan Cak Nur di Ramadhan terakhir beliau sebelum meninggal pada sebuah media cetak nasional, beliau sekali lagi menyampaikan bahwa puasa adalah sarana latihan manusia untuk sadar akan Kemahahadiran Allah SWT (omnipresent). Dengan begitu manusia akan selalu mawas diri, sadar akan dirinya sebagai manusia, dan terhadap manusia yang lain. Nampak dari situ bahwa Cak nur senantiasa menyampaikan Islam yang lekat dengan kemanusiaan meski berangkat dari hal yang syar’i sekalipun.  Secara implisit Cak Nur ingin menegaskan bahwa syari’at bukan diarahkan semata manusia untuk Khalik-nya, tapi lebih dari itu yaitu untuk sesama manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Abdurrahman Wahid

Apa yang dipikirkan dan dituliskan oleh Cak Nur telah dilaksanakan secara konkrit oleh Gus Dur. Tanpa “ba, bi, bu” seorang Gus Dur mengamalkan kemanusiaan (humanity) dan inter-human atau keberagaman (pluralisme) secara konkrit. Dia begitu sering menyambangi tokoh-tokoh agama lain dan kelompok-kelompok minoritas, seakan Gus Dur tak lagi bersekat bersama mereka. Hal itu terbukti bahwa yang menangisi kepergian beliau bukan saja dari santrinya, kalangan NU, tetapi juga dari umat agama selain Islam dan kelompok-kelompok minoritas yang ada di Indonesia.

Gus Dur ingin benar-benar memberikan sebuah teladan Islam itu “rahmatan lil’alamin”. Komunikasi dengan berbagai kelompok di luar Islam beliau bangun, bahkan dengan Israel sekalipun yang sering dianggap sebagai musuh bebuyutan Umat Islam se-Dunia. Gus Dur ingin membuktikan bahwa Islam bisa maju karena keterbukaan, komunikasi dengan pihak lain, juga kerja sama. Bukan Islam yang berada di “sekte-sekte”, membangun kebanggaan terhadap kelompok sendiri, dan terus mengaji sekaligus mencibir kelompok yang lain. Hal tersebut nampak pada buku beliau yang berjudul “Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita”, bahkan di buku tersebut Gus Dur menyebut bahwa “Tuhan tidak perlu dibela” dimana maksudnya adalah pembelaan terhadap manusia (yang tertindas) jauh lebih penting. Tetapi hari ini nyatanya masih banyak umat Islam indonesia yang berat untuk berpikir terbuka, dengan mengatasnamakan agama  (juga Tuhannya) berbuat sesuka hati kepada orang lain, seakan surga milik kaplingnya sendiri, sehingga akhir hayatnya Gus Dur masih digunjingkan dengan sebutan-sebutan yang tak berdasar oleh sesama umat Islam yang mengaku pelaku Islam kafah.

*bersambung, Insya Allah…


5 Responses to “Antara Gus Dur dan Cak Nur”


  1. January 15, 2010 at 5:35 pm

    menurutku, dalam hal pemikiran, Cak Nur lebih hebat dari Gus Dur. Kalo Gus Dur karena dia menang massa dan karena keturunan aja

  2. 2 teguh
    March 27, 2010 at 4:59 am

    koreksi :
    ISLAM YES, PARTAI ISLAM NO?
    sebuah kalimat tanya (saya dapat dari ensiklopedia Nurcholis Madjid)

  3. 3 Chintoenx
    June 2, 2010 at 8:27 am

    “Apa yang dipikirkan dan dituliskan oleh Cak Nur telah dilaksanakan secara konkrit oleh Gus Dur”, kok aku kurang setuju dengan pernyataan ini ^_^
    Mungkin memang ada irisan pemikiran Cak Nur dan Gus Dur, tapi menurutku apa yang dilakukan oleh Gus Dur bukan merupakan implementasi atau kongkretisasi terhadap apa yang ditulis dan dipikirkan Cak Nur.
    Menurutku, apa yang dilakukan Gus Dur, semata-mata refleksi dari pemahaman Islam Ahlussunnah Waljamaah yang tasammuh, tawassuth dan i’tidal, yang rahmatan lil ‘alamin, dengan tetap melandaskan pada qawaidul fiqh (ushul). Kelebihan Gus Dur dibandingkan Cak Nur, bukan semata-mata karena nasabnya, tapi juga karena kemampuan Gus Dur dalam membahasakan persoalan sosial politik kontemporer dalam bahasa fiqh, sehingga orang awam sekalipun, yang dipelosok desa dapat mengerti apa yang disampaikan oleh Gus Dur. Memahami Gus Dur, haruslah terlebih dahulu memahami dunia Gus Dur, yaitu dunia pesantren ^_^

  4. 4 wahid
    October 11, 2010 at 12:05 pm

    yang jelas gusdur dengan caknur sangat berbeda, yang pasi semuanya mempunyai kelibihan masing-masing yang pasti tidak ada yang bisa menyamakan kelibihan itu karena manusia sudah di kadar masing-masing iya gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  5. 5 1chs4n tub4n
    November 27, 2013 at 1:13 pm

    lhe lhe lhe, belon tau dia. hehehehehe. itu karna penulis, lebih dekat pada caknur, bukan pada gusdur. sesuatu yg sangat wajar. hehehehe. gitu aja kok repot2 mas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: