Archive for June, 2010

11
Jun
10

Ayam Bakar T3 SuTa

Ini sebenarnya berawal dari kisah gagal check-in Mandala (…*&%$W#%&**^…!!!), padahal masih ada waktu 25 menit sebelum keberangkatan pesawat ke Jambi. Tapi ya sudahlah, lupakan. Malazz klo ingat-ingat lagii…

***

Akhirnya karena batal berangkat, setelah termangu, menyesali nasib. Hehehe…. Saya mencari masjid untuk menunaikan sholat jum’at. Habis sholat, saya kelaparan…

Lihat-lihat ke kiri-kanan sebelah masjid ada warung makan, ramai, dan asap ‘kebul-kebul’ dari warung itu. Hmm….ternyata ayam bakar. Coba deh..

pendek cerita, ternyata ayam bakarnya unik. Pakai tusukan gitu, bisa dilihat di gambar. Sambelnya pedesss… Recommended banget kalau anda lagi di Terminal 3 Bandara Sukarno-Hatta. Tapi jangan kemalaman, kata Ibu-nya yang jual makanan habis paling malam jam 8 saja. Jadi silakan mencoba..

09
Jun
10

Enjoy Tidore

Begitu sampai di Tidore, langsung menjalankan amanah, istirahat, mandi, bersosialisasi dan lain-lain…

Skip, skip, skip….

***

Kesan pertama saya masuk ke Tidore adalah pulau kecil yang tenang, lengang, tapi memang terasa panas. “Never mind..”, aku berkata dalam hati, namanya juga jalan-jalan di wilayah kepulauan. Tapi mang benar-benar lengang nih pulau..

Setelah menghabiskan waktu hingga lewat isya’ di tempat training, mengisi training sekaligus dapat cerita-cerita menarik mengenai maluku utara dari Dekan Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Ternate (yang juga menjadi pemateri di acara tersebut) saya bersama-sama teman-teman bersiap untuk “hang out” :D. “It,s time to hangout..”, kata saya kegirangan dalam hati. Meski pulau Tidore nampak sangat gelap malam itu, sejak siang ketika kami datang memang aliran listrik sedang padam, saya kira hanya siang itu saja, ternyata berlanjut hingga malam hari. Ketika saya tanya ke teman yang asli Tidore, memang begitu, karena kapasitas listrik terbatas maka aliran listrik bergilir sehari hidup sehari nyala. Dan, ketika saya datang ke Tidore itu pas giliran hari tanpa listrik. Huaaaa……..!!! 😦

Mobil sudah siap, kami bersiap mau pergi. Panitia yang bawa mobil itu bilang, “saya belum ahli banget nyetirnya….”. Ya sudah, saya ambil alih kemudi mobil, OK hang out kita..!!! Hehe… Begitu keluar dari arena training menuju jalan di depanya tidak ada komentar saya yang lain, selain: GELAP. Mala itu Tidore gelap sekali.. Saya sempet merasa nggak beruntung datang ke Tidore saat mati lampu, “i can’t see anything there..” Tapi bagaimanapun saya mencoba menikmati perjalanan itu, coba anda bayangkan, nyetir di jalan yang nggak kita paham dan dalam kondisi gelap gulita, gimana nggak ‘dag-dig-dug’ ini jantung. Saya berjalan sesuai arahan teman yang asli Tidore aja..

Jalan kecil, pas untuk dua mobil papasan, aspal mulus… Naik turun, berkelok-kelok, mengikuti kontur pulau, ada jalan yang benar-benar dipinggir pinggir laut, banyak orang yang memancing kalau sekilas saya liat. Wow…laut lepas, tapi karena gelap saya nggak bisa liat apa-apa, hanya pantulan cahaya langit di permukaan laut aja. Mobil berjalan, tetap menyusuri jalan..

Akhirnya kami bertemu kota Tidore, di sini ada koneksi listrik, lampu-lampu di jalan juga nyala. Wajah kota Tidore jadi nampak, saya ditunjukkan komplek Kraton Tidore, Masjidnya juga.. Terus kantor Bupati dan komplek perkantoran yang lain. Blok-blok kota sudah terlewati, ternyata kami terus lagi, kembali ke jalan-jalan yang gelap, kami malam itu mau menuju rumah seorang teman yang juga ada di dalam mobil bersama kami, istrinya lagi hamil tua, sehingga butuh sentuhan sang suami tercinta. Hehehe…. Ketidaktahuan akan arena perjalanan plus dengan gelapnya kota membuat perjalanan saya malam itu terasa lama.

Sampai juga di rumah teman itu, dia langsung turun untuk menghampiri istrinya, dan kami menunggu saja di mobil. Hmm…bosan juga, lalu kami memilih untuk turun dari mobil. Suasana masih gelap, tapi saya nggak tau kok beberapa rumah nampak terang oleh satu-dua lampu, kata teman sih karena menggunakan lampu charger. Ya..cuma itu aja penerangan yang bisa kami nikmati malam itu, selebihnya gelap. Lihat kiri-kanan, sambil bercanda dengan teman-teman, saya tertegun ketika saya mengadahkan kepala. Pandangan saya tertuju pada langit lepas.. Langit memang nampak gelap, tapi bintang bertaburan. Waa…indah sekali!!! Benar-benar bertaburan, seperti jika kita mengambil segenggam pasir kemudian kita lemparkan ke lantai, seperti itulah bintang-bintang di langit malam itu di langit Tidore. Tuhan benar-benar menghamburkan bintang di langit Tidore malam ini. Saya nampak ‘ndeso’ banget, kepala saya terus menengadah melihat ke langit, “Woww….”, saya bergumam melihat langit dengan taburan bintang malam itu. Indah banget, kalau di Jakarta entah di mana bintang-bintang itu sembunyi.

Malam semakin larut, kami menuju pasar Tidore. Saya masih serasa setengah blank, menyusuri jalan asing dalam situasi gelap gulita. Nampak terang di depan, yup…ternyata itu pasar Tidore yang memang mau kami tuju. Terang, di situ ada aliran listrik ternyata. Kata Ketum HMI Cabang Tidore, “makan duren dulu kita..”. Waaakk….senangnya hatiku! 😀

Kami turun, di depan pasar itu (pasarnya sendiri tutup), ada beberapa penjual durian yang menggelar dagangannya. Pokoknya saya ikut si Ketum aja, dia mau ke mana. Dia pilih berhenti di seorang penjual durian, pilih-pilih, tawar-tawar, akhirnya kami belah duren juga. Mmm….manis, enakk! Kalau beli duren di Tidore nggak usah khawatir duriannya nggak asli manisnya atau matangnya. Pasti asli semua, jadi saya lahap selahap-lahapnya. Biji demi biji durian menunmpuk. Hmmm…..durian asli Pulau Tidore. Nyaammm….. Kulit durian pun sedikit demi sedikit tertumpuk, berbagai ukuran. Kami berlima malam itu, tapi durian sudah habis mendekati 10 buah. Hahaha… 😀

Peserta ‘pesta durian’ berguguran satu per satu. Seorang teman akrab, yang tadi habis jenguk istrinya, memilih durian lagi. Lalu dia bilang, “Ka, kamu harus coba durian pilihan saya..”. Waaak….padahal saya sudah kenyang banget, tapi dia tetap memaksa. Makan juga deh.. satu demi satu, hmm….tetap enak, tapi ya itu kenyaangg! Alhamdulillah habis juga..

Eh, dia malah nambahin. Nantangin ke saya,  “Kuat nggak makan satu lagi…?” katanya. Dia kembali pilih durian, lalu dibuka oleh penjualnya, “Ayo Ka, makan lagii..” Wahh…ini sih bukan makan, tapi “gila-gilaan” Hahaha… 😀

Beneran deh, tuh teman satu itu. Bener-bener nantangin makan duren. Kami berdua sampai tiga kali nambah durianya, padahal yang lain sudah mengibarkan bendera putih. Teman-teman yang lain sudah ketawa-ketiwi aja lihat kami berdua lomba makan durian. Hehehe… “And…the winner is.. OKA ADITYA!!”. Hahaha… Ternyata saya menang sodara-sodara. Dia mennyerah di setengah duren ketiga 😀

***

Bintang bertaburan dan durian gelondongan menjadi kenangan tak terlupa di Tidore. Belum sempat main air. Itu yang membuat saya pengen kembali ke Timur. Keindahan Indonesia yang terlupakan.. Let’s escape to the east!! 🙂

07
Jun
10

masjid dan kesetiakawanan sosial

Jika kata “masjid” disebut maka yang ada di benak kita adalah sholat atau sembahyang dan segala sesuatu yang menjadi atributnya seperti adzan, iqomah, juga jama’ah. Yup..hal itu memang hal yang biasa, dan adzan selalu berkumandang lima kali sehari, mungkin itu pula yang membuatku kita sangat biasa dan nggak terlalu peduli. Padahal jika kita cermati lebih dalam, masjid telah menjadi meeting point bagi banyak orang, dari segala macam asal, dan dari segala lapisan sosial. Semua orang muslim berhak dan boleh untuk ke masjid, karena panggilan adzan memang untuk semua orang muslim tak terkecuali. Maka dari itu masjid selalu menjadi rumah bagi semua orang.

Saat kita mampir di masjid ketika waktu sholat tiba maka berangsur-angsur orang akan menandatangi masjid dan kita bisa berjumpa dengan siapa saja. Ada penjual asongan, ada penjual somay keliling, bisa berjumpa dengan sopir taksi, bisa jumpa orang dari kantor samping masjid itu, dan masih banyak lagi. Semua yang datang ke masjid tidak dibeda-bedakan, semua melepas alas kaki, menuju tempat wudhu, lalu segera mengambil shaf untuk sholat. Shaf-nya pun tanpa menggunakan pembagian, seperti shaf pertama untuk yang pejabat kemudian shaf berikutnya untuk pedagang kecil, semua sama bisa mengambil shaf dimanapun sesuai kedatangan. Ketika selesai sholat pun sama-sama mengucapkan salam, kemudian saling berjabat tangan tanpa melihat baju yang masing-masing sedang kenakan. Suasana yang betul-betul egaliter dan kekeluargaan.

Dalam konteks persatuan bangsa modal tersebut di atas sangatlah penting. Bila selama ini orang banyak menyayangkan pertikaian antar masyarakat sering terjadi, dari yang persoalan sepele perseteruan antar suporter bola, perselisihan antar pelajar atau mahasiswa, sampai perang antar kampung dan antar etnis seperti di cengkareng terakhir yang membuat kita prihatin. Rasanya rasa kebersamaan semakin luntur dan lebih dominan semangat kelompok, etnis, kesetiakawanan (atau solidaritas) yang sempit.

Masjid dengan segala atributnya yang ada bisa menjadi perekat antar masyarakat, baik secara personal maupun secara antar komunitas. Maka dari itu penting kiranya fungsi masjid ditingkatkan, tidak hanya sekedar tempat sholat tapi juga kegiatan-kegiatan setelah sholat tidak kalah pentingnya. Masjid tidak hanya sebagai meeting point tetapi juga membawa yang hadir di situ berada pada ‘frekuensi’ yang sama, maka dari itu akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang untuk bersama pula. Tentu akan banyak hal yang bisa dikerjakan dalam konteks bersama, minimal sekali adalah silaturahim yang terjalin. Maka dari itu adanya meeting, ramah tamah, atau apa pun namanya penting kiranya diciptakan setelah sholat berjama’ah. Saya kira apa lagi kekuatan dari sebuah jama’ah jika bukan karena orang-orang yang di dalamnya, dan kekuatan itu bisa efektif jika saling jalin-menjalin, jalin menjalin bisa tyerjadi jika ada ikatan di antara para jama’ah. Dari situ kita bisa lihat betapa besar potensi kesetiakawanan sosial atau solidaritas yang bisa kita bangun. Jadi Masjid benar-benar bisa memecah kebuntuan komunikasi antar masyarakat dan masjid bisa menjadi bagian dari solusi permasalahan sosial yang ada di masyarakat.

04
Jun
10

Bersyukurlah kalian yang memilih jalan ideologis

Ketika orang lain rela membunuh cuma karena selembar uang
Ketika orang rela mencuri demi HP baru
Bahkan orang rela menjual diri hanya demi penampilan..
Kalian lebih memilih menahan diri, bercukup diri, dan berpuasa.

Ketika banyak orang mengakali anggaran negara dan menghabiskannya demi rumah mewah dan mobil mewah.
Ketika banyak orang memilih menghabiskan uangnya untuk kesenangan sendiri demi refreshing,
Kalian malah habiskan uang kalian yang tak seberapa untuk berbagi bersama orang-orang yang tak beruntung.

Ketika banyak orang takut untuk hidup cuma karena tak punya makanan atau putus cinta. Kalian berikan hidup mu untuk orang-orang yang tertindas..

Wahai kalian yang memilih jalan ideologis, perihalalah ruh suci Tuhan dalam diri mu. Jangan pernah kau kotori, biarkan cahayaNya menerangi jalan kita, menggerakkan kaki dan tangan kita. Biarkan diri kita menjadi rahmat bagi semesta alam..

03
Jun
10

Nasi Jamblang, Cirebon.

Cirebon, kota yang sering ku lewati. Maklum, letaknya di pantura, tempat persilangan jalur utara dan selatan. Tapi baru kali ini bisa makan yang namanya makanan tradisional orang Cirebon, Nasi Jamblang. Berangkat dari sebuah undangan mengisi training di HMI Cabang Cirebon, setelah selesai makan deh.. eh, sebenernya itu belum selesai ding. Hehe.. Makan dulu, habis jadwal ngisinya masih entar malem. So, let’s go!!

Jam sudah menunjukkan jam 15.30, tapi aku belum juga makan siang karena habis terjebak macet dua jam lebih di jalur pantura karena ada perbaikan jalan sekitar Indramayu-Subang. Lapar sangat terasa.. Langsung ku todong pengurus cabang, “ayo makan..!!” 😀

Tak lama, kami langsung meluncur ke sebuah rumah makan yang termasuk mewah, model ada rumah-ruamahan gitu. Terus aku langsung bilang, “duh..jangan di rumah makan kaya gini deh. Ini terlalu enak dan mahal, aku pengen yang khas Cirtebon, murah-meriah..” Berpikir sebentar teman-teman yang ngantar saya itu, “Ya’, nasi Jamblang aja..” Langsung kusambut dengan riang gembira, secara sudah lama denger makanan rakyat Cirebon yang tersohor itu.

Akhirnya, naik mobil lagi dan saya dibawa ke sebuah warung makan di deket perempatan apa aku nggak tahu, yg pasti ada BRI (kalau ga salah..). Kata teman-teman itu, tempo hari Bang Akbar juga ke situ. Woww…semakin semangatlah saya makan. Begitu datang, suasana tempat makan lumayan ramai, langsung ambil meja yang cukup untuk berempat. Ups..ternyata model prasmanan gitu. Jadi kita harus menuju meja si penjual dulu.

Yang menarik, nasinya dibungkus daun pohon jati. Si penjual langsung tanya, “nasinya satu atau dua..” Setelah melirik porsi nasi, “Dua Bu..” Lapar bow! Hahaha…. Terus di depan si Ibu ada berbagai hidangan lauk-pauk beraneka ragam, sayang karena datang terlalu sore jadi menu lauk nggak begitu lengkap, tapi tak apa buatku sudah sangat banyak itu hidangan. Ku pilih, tempe goreng dengan tepung, bergedel, sama paru goreng, tak lupa sambal.

Mari kita makan!! Waa…enak, enaakk! Sekilas mang mirip nasi kucing di angkringan, dengan lahap karena lapar juga saya langsung makan, “nyamm…” Eh, lupa.. belum dipoto. Ambil HP dulu, klik-klik, ambil beberapa shoot. Siipp lah!! Makanya tu poto dalam posisi sendok siap sedia. Hahaha…. 😀 Lanjut makan lagi.. Mmm…paru gorengnya dicocol sambel. Mmmm…… Selamat makan!!

Kesimpulan: Nasi yang sangat sederhana, dibungkus daun pohon jati, bisa mewah kalau pilih menunya banyak. hehe.. Murah-meriah! Hard recommended kalau ke Cirebon.

03
Jun
10

Makan Iga Bakar Penyett..

Baru nemu di surabaya! Setelah sekian lama jalan-jalan ke surabaya aku diajak oleh seorang teman untuk makan malam. Yang dia pilihkan adalah IGA BAKAR PENYET, aku pertama menolak. Habis, jauh-jauh ke surabaya masa’ makan iga. Kan udah banyak yang jual iga, dari sop iga, iga bakar dan lain-lain. Jadi ya menurutku biasa aja..

Tapi temen satu ini tetep ngeyel, “enak-enak..”, kata dia berusaha meyakinkanku. Eh, bener juga, pas sampai di tempatnya betul-betul ramai gila. Keluarga-keluarga banyak yang makan juga, makin membuatku penasaran. Begitu masuk pintu kaca, wow..ramenya. Mata kami langsung liat ke kiri-ke kanan mencari tempat yang kosong. Ups..ternyata ada satu meja di deket kasir. Tanpa banyak kata, kami berdua langsung cepat-cepat ke meja yang kosong itu.

OK, meja sudah dapat! Seorang pelayan menghampiri kami, lalu menu digelar. Yup..saatnya memilih. Hmm…menu begitu banyak. Langsung aku tanya, “Yang paling special di sini apa Mas?” Dia jawab, “Iga Bakar Penyet..”, sambil nunjukkan gambar di menu. Nyumm….langsung terbayang. “OK, saya satu.. eh, dua Mas..”, karena temanku memberikan kode untuk menu yang sama.  Terus si pelayan tanya, “Mau sambel yang cukup, pedas, atau ekstar pedas?” Ku jawab dengan mantap, “Ekstra pedas..” Haha.. 😀 Sok PD, padahal belum pernah makan disitu sebelumnya. Dan, untuk minum kami pilih Teh Tarik Dingin. Hmmm….tak sabar menanti.

Nasi datang… Minum menyusul, “srupptt….enak!” Setelah itu yang dinanti datang juga, Iga Bakar Penyet. Dihidangkan dengan cobek besar, sambal merah menantang, dengan lalapan secukupnya, Hmmm…..ada dua cabai yang dipasang, tanpa diulek, di sisi cobek. “Wah..kayanya ini sebagai tanda bahwa pesenanku ekstra pedas kali..” kataku dalam hati.

Ambil daging iga-nya dikit, wow lembut, empukk bgt.. terus coel ke sambalnya. “Mmmm…uenak!” dan tentunya pedes banget. Hehe…

Tak ada kata mundur, terus makan, ambil dengan nasi, nyamm…. Sampai akhirnya sadar, ups..belum dipoto, kan buat blog. Bersihkan tangan pakai tissue, ambil handphone, klik-klik.. ambil beberapa shoot. Makanya itu, kalau liat poto di atas agak bolong sambelnya karena sudah ku makan. Hehe.. 😀 Yap, cukup.. Acara makan lanjut lagi.

Overall: enak, harga menengah, recommended!

catatan: di jakarta juga ada di Kemang, apa nama foodcourtnya lupa, yang pasti foodcourt sebrang foddfest. Selamat mencoba!