07
Jun
10

masjid dan kesetiakawanan sosial

Jika kata “masjid” disebut maka yang ada di benak kita adalah sholat atau sembahyang dan segala sesuatu yang menjadi atributnya seperti adzan, iqomah, juga jama’ah. Yup..hal itu memang hal yang biasa, dan adzan selalu berkumandang lima kali sehari, mungkin itu pula yang membuatku kita sangat biasa dan nggak terlalu peduli. Padahal jika kita cermati lebih dalam, masjid telah menjadi meeting point bagi banyak orang, dari segala macam asal, dan dari segala lapisan sosial. Semua orang muslim berhak dan boleh untuk ke masjid, karena panggilan adzan memang untuk semua orang muslim tak terkecuali. Maka dari itu masjid selalu menjadi rumah bagi semua orang.

Saat kita mampir di masjid ketika waktu sholat tiba maka berangsur-angsur orang akan menandatangi masjid dan kita bisa berjumpa dengan siapa saja. Ada penjual asongan, ada penjual somay keliling, bisa berjumpa dengan sopir taksi, bisa jumpa orang dari kantor samping masjid itu, dan masih banyak lagi. Semua yang datang ke masjid tidak dibeda-bedakan, semua melepas alas kaki, menuju tempat wudhu, lalu segera mengambil shaf untuk sholat. Shaf-nya pun tanpa menggunakan pembagian, seperti shaf pertama untuk yang pejabat kemudian shaf berikutnya untuk pedagang kecil, semua sama bisa mengambil shaf dimanapun sesuai kedatangan. Ketika selesai sholat pun sama-sama mengucapkan salam, kemudian saling berjabat tangan tanpa melihat baju yang masing-masing sedang kenakan. Suasana yang betul-betul egaliter dan kekeluargaan.

Dalam konteks persatuan bangsa modal tersebut di atas sangatlah penting. Bila selama ini orang banyak menyayangkan pertikaian antar masyarakat sering terjadi, dari yang persoalan sepele perseteruan antar suporter bola, perselisihan antar pelajar atau mahasiswa, sampai perang antar kampung dan antar etnis seperti di cengkareng terakhir yang membuat kita prihatin. Rasanya rasa kebersamaan semakin luntur dan lebih dominan semangat kelompok, etnis, kesetiakawanan (atau solidaritas) yang sempit.

Masjid dengan segala atributnya yang ada bisa menjadi perekat antar masyarakat, baik secara personal maupun secara antar komunitas. Maka dari itu penting kiranya fungsi masjid ditingkatkan, tidak hanya sekedar tempat sholat tapi juga kegiatan-kegiatan setelah sholat tidak kalah pentingnya. Masjid tidak hanya sebagai meeting point tetapi juga membawa yang hadir di situ berada pada ‘frekuensi’ yang sama, maka dari itu akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang untuk bersama pula. Tentu akan banyak hal yang bisa dikerjakan dalam konteks bersama, minimal sekali adalah silaturahim yang terjalin. Maka dari itu adanya meeting, ramah tamah, atau apa pun namanya penting kiranya diciptakan setelah sholat berjama’ah. Saya kira apa lagi kekuatan dari sebuah jama’ah jika bukan karena orang-orang yang di dalamnya, dan kekuatan itu bisa efektif jika saling jalin-menjalin, jalin menjalin bisa tyerjadi jika ada ikatan di antara para jama’ah. Dari situ kita bisa lihat betapa besar potensi kesetiakawanan sosial atau solidaritas yang bisa kita bangun. Jadi Masjid benar-benar bisa memecah kebuntuan komunikasi antar masyarakat dan masjid bisa menjadi bagian dari solusi permasalahan sosial yang ada di masyarakat.


1 Response to “masjid dan kesetiakawanan sosial”


  1. 1 zul
    June 7, 2010 at 12:37 pm

    bukan itu aj. bang!!!

    masjid juga bisa jadi tempat pertemuan dua insan anak manusia. *hingga menjalin suatu hub.gan..heheh…:D *kunfayakun,,,,jadilah saya,,,,hahahh,,,:D

    apalagi pada zaman doelo! pada saat tarawih,,hahah,,,:D

    *tbongkar busuknya dh,,,,hehe,,:D*
    *pengalaman pribadi bang*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: