15
Jun
11

The Business Leader, TP Rachmat

Malam itu 9 Mei 2011 jadwal kuliah “Meet the business leader”, tapi malam itu tidak seperti biasanya. Kuliah yang biasanya hanya menggunakan kelas berkapasitas sekitar 40 orang malam ini menggunakan hall utama di kampus S-2 Universitas Paramadina di gedung Energy lantai 22. Begitu pula yang datang, yang biasanya hanya mahasiswa 2 angkatan, tetapi malam ini jauh lebih banyak. Seluruh civitas akademika Universitas Paramadina berkumpul dari jajaran rektorat hingga mahasiswa S-1, juga undangan. Nampak ruangan malam ini penuh sekali dan banyak yang terpaksa harus berdiri di belakang karena tidak kebagian kursi.

Ternyata di deretan jajaran rektorat yang duduk paling depan tidak ada Bapak Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina. Para peserta kuliah malam ini baru tersadar ketika Bapak Rektor memberikan sambutannya melalui layar yang dipasang di depan, suasana spesial semakin bertambah, walau tak hadir Pak Rektor tetap ingin menyampaikan sambutannya secara langsung.

Sosok TP. Rachmat sangat bersahaja. Penampilannya biasa saja, pandangan matanya teduh, dan rambutnya yang sudah nampak memutih. Tapi dari pembawaanya orang pasti sudah tahu seorang TP. Rachmat bukan orang biasa. Ada keyakinan diri yang terpancar dari dirinya. Begitu simpel penampilan beliau di atas panggung, beliau berbicara hanya dengan sebuah spidol untuk menulis di kertas yang disediakan.

Tetapi apa yang disampaikan oleh Pak TP. Rachmat sungguh luar biasa. Dengan lugas ia bisa menyampaikan pengalamannya bertahun-tahun memimpin berbagai bisnis dengan poin-poin yang sederhana. Banyak hal-hal berat yang disampaikan tetapi cukup dengan 3-5 poin saja.

Membuka kuliah yang telah disulap menjadi seminar meriah malam itu, Pak TP. Rachmat menyampaikan pentingnya memilih dimana jenis industri apa bisnis kita akan bergerak dan harus memahami karakteristiknya, kemudian Pak TP. Rachmat menyampaikan bahwa bisnis kita harus unik dari pelaku bisnis yang  berada di industri yang sama tersebut, harus ada spesialisasi dalam bisnis. Dan, yang terakhir beliau sampaikan, “Bisnis itu harus dominan!” Pernyataan yang sangat obsesif tentunya, tapi memang beliau telah membuktikan.

Pak TP. Rachmat menjelaskan bahwa dalam membangun usaha harus memiliki tim yang solid, dalam memilih tim tersebut beliau menyampaikan ada tiga kategori ketika ia ingin membentuk tim, yang pertama adalah karakter. Menurut beliau penting karakter seseorang dalam sebuah tim karena itu yang terkait dengan sikap sehari-hari. Kemudia yang kedua adalah passion, personal dalam tim harus memiliki passion. Mungkin memang ini yang membuat bisnis itu bisa tumbuh dengan cepat. Kemudia yang ketiga adalah pintar. Bahkan Pak TP. Rachmat mengatakan dengan sedikit sinis, “Yah..pinter dikit ga pa pa lah…”. Sepertinya beliau ingin menekankan bahwa kepintaran bukan syarat utama dalam bisnis sukses. Menegaskan sekali lagi, beliau sampaikan, “Ini harus urut.” Maksudnya, karakter, passion, dan kepandaian itu sebuah urutan yang penting berdasarkan priorotas dalam tim bisnis.

Meski sudah berusia kakek-kakek tapi memang nampak passion beliau. Beliau dengan tegas mengatakan, “Perusahaan itu jangan kecil-kecilan. Tidak ada itu small is beautiful..” Jelas sekali pesannya, bisnis itu harus mampu tumbuh menjadi besar, tidak boleh tanggung-tanggung dalam membangun sebuah bisnis. Bahkan beliau menyambung, “Bisnis itu kalau belum ditegur oleh KPPU berarti belum kerja keras.” Pernyataan yang sungguh keras, sepertinya Pak TP. Rachmat ingin menekankan puncak dari bisnsi itu ketika bisnis mendekati dominasinya terhadap pasar.

Pak TP. Rachmat juga memberikan pesan untuk menjaga tim kerja agar tetap solid, yang pertama harus diperhatikan adalah pay. Pak TP. Rachmat menekankan pentingnya menghargai kerja orang, makanya beliau menyampaikan bahwa membayar orang dengan sesuai adalah hal yang penting. Berikutnya berturut-turut adalah opportunity, transparant, dan pride. Seorang leader sebuah bisnis harus memberikan kesempatan yang sama bagi semua anggota timnya, tidak boleh pilih kasih. Kemudian antara sesama angggota tim harus transparan, baik dari target usaha hingga persoalan keseharian perusahaan. Hal ini penting untuk membangun trust di antara tim itu sendiri. Yang tidak kalah pentingnya adalah harus bisa menumbuhkan kebanggaan (pride). Pride penting untuk sebuah kepercayaan diri tim terhadap bisnis yanng sedang dikerjakan.

Rumus manajemen Pak TP. Rachmat sangat simpel, “standarisasi supply chain.”, ujarnya. Keberhasilan dari produksi bisa diukur ketika apa-apa yang menjadi input dari proses itu terpenuhi. Maka dari itu sangat penting bagi beliau keberhasilan dari bisnis adalah ketika seorang businessman mampu menentukan standar suplai yang dibutuhkan dari usaha, baik dari sisi kuantitas dan kualitas.

“Perusahaan tanpa kultur maka akang menunggu kehancurannya…”, itu yang disampaikan oleh Pak TP. Rachmat. Kemudian beliau menambahkan, “Kultur itu adalah transparansi dan meritokrasi.” Pak TP. Rachmat berkali-kali menyebut ‘meritokrasi’, nampaknya ini hal yang penting dalam sebuah perusahaan. Penghargaan terhadap anggota tim yang memiliki prestasi ternyata menjadi hal yang sangat digarisbawahin oleh beliau.

Pak TP. Rachmat memberikan panduan dalam menjadi seorang CEO yaitu walk to talk (memberikan teladan), ambition, dan care to staff. Tiga poin tersebut adalah kunci selama Pak TP. Rachmat menjadi CEO di sebuah perusahaan, nampak sederhana tetapi bukan hal yang mudah untuk diaplikasikan dalam keseharian. Sebuah standar pribadi yang bisa diikuti oleh sapa saja yang memilki cita-cita sebagai pimpinan sebuah perusahaan.

Kebersahajaan dan kepedulian beliau di tengah aktifitas bisnisnya yang sangat passionate tersebut nampak ketika beliau menjelaskan bahwa dengan besarnya bisnis yang dimiliki paling tidak ia bisa menghidupi 3000 karyawan di bawah perusahaan yang ia pimpin, bila setiap karyawan memiliki keluarga kecil berarti paling tidak 9000 manusia telah dihidupi dari bisnis yang ia pimpin. Kemudian Pak TP. Rachmat menanggapi mengenai testimoni ketika beliau menolak BMW seri 7 terbaru ketika menjadi CEO Astra, beliau menyebutkan, “Directly or not directly kita harus memikirkan anak-anak kecil yang sering ketuk-ketuk mobil kita…” Sebuah ungkapan yang begitu dalam, menunjukkan karakter dari seorang TP. Rachmat.

Meski akhirnya penonton harus kecewa dengan jawaban beliau ketika seorang peserta menanyakan soal mobil nasional, dan Pak TP. Rachmay sadar bahwa jawabannya mengecewakan, beliau merasa tidak perlu Indonesia membuat mobil nasional. Beliau mengatakan,”Kalaupun saya tiap hari latihan angkat beban saya tidak akan bisa mengejar Arnold…” Beliau juga mengatakan pesimis dengan proram mobil nasional Malaysia, padahal produknya sudah sampai Indonesia, yaitu Proton.

Secara keseluruhan kuliah Pak TP. Rachmat sangat inspirasional. Pengalamannya yang ia bagi sangat mahal. Dengan poin-poin sederhana yang ia sampaikan bisa memacu semangat para pengusaha yang sedang merintis untuk memiliki pegangan-pegangan dalam mengembangkan sebuah bisnis. Suasana cerah-ceria dan tepuk tangan yang membahana menutup sesi seminar yang membuktikan bahwa seorang TP. Rachmat memang sosol yang luar biasa, belum lagi perhatian beliau dalam bantuan pendidikan khususnya bagi mahasiswa Universitas Paramadina.


0 Responses to “The Business Leader, TP Rachmat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: