25
Oct
12

Perempuan: Peran Domestik?

Jawapos, Kamis, 15 Des 2005,
Perempuan: Peran Domestik?
Oleh Oka Aditya *
Sungguh menarik memang bila kita membicarakan peran wanita di era modern ini. Di
satu sisi banyak kaum hawa yang merasa bahwa kaumnya juga mampu berperan
layaknya pria. Di sisi lain ada pihak yang mengatakan bahwa peran wanita yang
sebenar-benarnya adalah peran domestik atau peran di dalam rumah.Kaum perempuan selalu teringat akan perjuangan Ibu Kita Kartini. R.A. Kartini
ini selalu dijadikan tonggak kemajuan perempuan Indonesia. Bila perannya
direduksi, perempuan Indonesia akan mengatakan bahwa hal itu mundur ke zaman
sebelum penulis Habis Gelap, Terbitlah Terang tersebut dilahirkan.

Bila kita melihat rumah sebagai acuan, tentu kita akan membayangkan sebuah
keluarga, lengkap dengan ayah, bunda, dan anak-anak. Peran seorang perempuan di
sini tentu sangat besar, tidak kalah besar dengan peran seorang pria. Tiada
keutuhan keluarga tanpa seorang ayah. Begitu pula sebaliknya, tiada terwujud
sebuah keluarga tanpa seorang bunda.

Pria yang kemudian berperan sebagai ayah dan perempuan yang kemudian berepran
sebagai bunda adalah peran yang saling melengkapi. Walau memang ada peran-perang
khusus yang sangat kodrati. Bila melihat hal ini, tidak layak kiranya bila kita
membeda-bedakan peran ayah dan bunda dalam sebuah keluarga.

Mari kita beralih perhatian pada sisi sang anak. Tentu saja, anak berasal dari
peran seorang pria dan perempuan. Banyak ahli yang mengatakan kedekatan seorang
bunda dengan anaknya adalah sebuah hal yang alami.

Maka dari itu, untuk menjaga hubungan yang indah tersebut, sangat dianjurkan
sang bayi mendapatkan ASI eksklusif dari sang bunda. Bila kita runut dari hal
itu, tampak bahwa peran bunda terhadap anaknya lebih besar, terutama untuk
hal-hal yang sangat khusus, seperti melahirkan dan menyusui. Peran khusus inilah
yang sering dijadikan alasan utama bahwa perempuan selayaknyalah konsentrasi di
peran-peran domestik saja.

Alasan yang kedua ialah alasan pendidikan anak. Jika sang suami bekerja dan ibu
juga bekerja di luar rumah, siapa yang harus mengurus, termasuk mendidik,
anak-anak? Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan. Hal itu benar juga
berkaitan dengan hal yang pertama di atas, lalu berlanjut sebaiknyalah seorang
bunda berperan sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Alasan kedua ini yang semakin memperkuat perlunya seorang perempuan konsentrasi
di peran-peran domestik. Selain alasan-alasan lain yang bersifat normatif,
seperti kehormatan perempuan.

***

Ini adalah pengalaman pribadi. Penulis adalah seorang anak yang dibesarkan di
sebuah keluarga yang kedua orang tuanya bekerja. Walau ayah dan bunda berkarir,
tidak ada sesuatu hal pun yang kekurangan, termasuk perhatian kedua orang tua.

Bahkan, kenangan-kenangan indah saat kecil bersama ayah dan bunda masih kuat
tertanam dalam benak. Saya pun merasakan peran bunda sama sekali tidak kurang,
bahkan dirasa lebih besar jika dibandingkan ayah. Dan, dewasa ini penulis sangat
merasakan peran-peran kedua orang tua sangat berefek hingga penulis sebesar ini.

Dari pengalaman tersebut, penulis mengambil sebuah kesimpulan bahwa tidak ada
salahnya sama sekali jika perempuan juga memiliki peran di luar rumah. Banyak
hal yang membuat perempuan harus mengambil peran-peran strategis di luar rumah,
mulai alasan-alasan bersifat idealis, seperti kesetaraan gender, hingga
alasan-alasan yang bertujuan pragmatis, seperti menambah pemasukan bagi
keluarga.

Yang perlu diperhatikan ialah komitmen perempuan itu sendiri terhadap hidupnya.
Siapa pun dia, sebagai apa pun dia, seorang perempuan akan tetap sebagai
layaknya perempuan jika ia memiliki komitmen yang utuh terhadap hidupnya.
Sepenting apa pun pekerjaannya di luar rumah seorang perempuan akan tetap bisa
menjadi seorang bunda yang baik bagi anak-anaknya.

Komitmen inilah yang perlu dibangun bagi perempuan-perempuan Indonesia. Hal ini
tentu saja berkaitan dengan cara pandang perempuan terhadap diri dan sekitarnya.

Aliran individualistik-materialistik yang menaungi gaya hidup hedon-lah yang
sebenarnya merusak generasi manusia, khususnya bagi kaum perempuan.

Banyak kasus di negeri-negeri maju bahwa perempuan-perempuannya berkarir hingga
ia sendiri, dengan kemauan sendiri, terus melajang. Target hidupnya hanyalah
karir mereka. Menikah dan hidup bersama seseorang yang lain, apalagi sampai
mempunyai keturunan, hanyalah hal yang merepotkan. Karir dan penghasilan demi
memuaskan keinginan pribadi itulah, tujuan yang paling besar.

Padahal, sudah menjadi fitrah manusia bahwa pria maupun perempuan akan
menunjukkan kepriaannya, bagi pria, dan akan menampilkan keperempuanannya, bagi
sang perempuan. Penampilan sisi kepriaan dan keperempuanan ini dapat bersinergi
baik jika sang pria, juga perempuan, berada dalam sebuah mahligai bersama, yaitu
keluarga.

Di sini kepriaan dan keperempuanan akan mampu berkembang secara utuh, dewasa,
dan tentu saja lebih konstruktif karena dibangun di atas sesuatu yang disepakati
bersama.

* Oka Aditya, mahasiswa Teknik Fisika UGM


0 Responses to “Perempuan: Peran Domestik?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: