21
Nov
14

Rugikah Menggratiskan Sekolah?

Untitled

Rugikah Menggratiskan Sekolah?

Oka Aditya *

Jangan hanya menyalahkan orang tua yang menyuruh anak-anaknya pergi ke jalanan untuk mencari sesuap nasi. Keadaan sosial-ekonomilah yang memang memaksa mereka untuk memilih itu, yaitu membiarkan anaknya mengais rezeki di jalanan. Karena pekerjaan orang tua tidak bisa mencukupi kebutuhan, anak-anak mereka harus ikut menopang keuangan keluarga atau malah orang tuanya merelakan anaknya mencari makan sendiri.

Yang pasti, bukan maksud mereka menyiksa anaknya untuk berada di jalanan dan tidak mengenyam pendidikan. Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan sekolah. Sebab, memikirkan makan mereka saja sudah sangat berat.

Kesadaran untuk menyekolahkan anaknya agar tidak seperti bapak-ibunya -yang sekadar memberikan makan sulit- pasti ada. Mereka tahu, jika mengenyam pendidikan, anak mereka akan memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik. Masalahnya, untuk menyekolahkan anaknya di SD saja, mereka harus mengeluarkan uang yang banyak, padahal menyambung hidup lebih penting. Ketiadaan biaya itulah yang menghambat mereka bersekolah.

Lebih Baik
Suatu bangsa maju tidak dipungkiri lagi karena penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Bangsa-bangsa Barat bisa maju seperti sekarang ini juga karena mereka menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bila bangsa kita ingin berubah dari keterpurukan ini, salah satu yang harus diperjuangkan adalah penguasaan masyarakat terhadap iptek.

Bila anak-anak bangsa bisa menguasai iptek dengan baik, kualitas mereka meningkat dan selanjutnya bisa membawa bangsa Indonesia dari keterpurukan. Manusia-manusia yang terdidik akan dapat berperan lebih terhadap bangsanya. Yang pasti, manusia-manusia Indonesia bila menguasai iptek tidak hanya menjadi penonton dan gemar dicekoki barang-barang canggih produksi luar negeri seperti sekarang. Mereka bisa memberikan karya-karyanya, tidak hanya untuk negeri sendiri, tapi mampu terjun di dunia internasional.

Kesadaran untuk mau menuntut ilmu harus terus disuarakan. Anak-anak bangsa seyogianya paham betul betapa pentingnya menuntut ilmu. Kesadaran untuk mau sekolah dan selalu mengembangkan diri harus ditanamkan sejak dini. Dengan begitu, anak-anak bangsa akan senantiasa berkeinginan meningkatkan potensi dirinya.

Kesadaran dari dalam diri sendiri untuk berkeinginan selalu menjadi yang lebih baik adalah suatu sikap mental yang penting. Bukankah manusia yang bisa membuat hari ini lebih baik daripada hari kemarin adalah manusia yang beruntung?

Kenyataan berkata lain karena kesadaran yang dikampanyekan lewat gerakan Ayo Sekolah tidak cukup. Sebab, selain mau, kita juga harus mampu. Meskipun kemauan dan kesadaran itu ada, ketika kemampuan tidak mendukung, tentu hal itu tidak akan terlaksana. Kemampuan untuk bersekolah dipengaruhi keadaan sosial-ekonomi seseorang.

Bagaimana mungkin negara yang sedang sulit makan ini masih bisa memikirkan sekolah. Keadaan riil di masyarakat inilah yang harus diperhatikan. Jadi, yang harus diperhatikan adalah membuat masyarakat menjadi mampu dan atau membuat kesempatan seluas-luasnya untuk dapat menikmati pendidikan bagi segenap masyarakat Indonesia.

Mencerdaskan
Agar bangkit dari keterpurukan dan dapat maju itu, semua harus diawali dari mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Para founding fathers kita benar-benar sadar bahwa kualitas penguasaan terhadap ilmu pengetahuan mempunyai tempat yang strategis dalam perjalanan bangsa ini.

Cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah cita-cita mulia yang tetap relevan sepanjang zaman.

Cerdasnya kehidupan bangsa bisa dicapai bila kesempatan menjadi cerdas itu ada. Kesadaran menjadi cerdas harus didukung kemampuan menjadi cerdas.

Bangsa ini harus mampu mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa. Kebijakan yang betul-betul bijak adalah pemerintah mau membagi anggaran negara untuk mendidik putra-putrinya. Bukan untuk membayar utang-utang yang tidak jelas atau diboroskan untuk kegiatan-kegiatan negara yang tidak menyentuh kehidupan banyak masyarakat. Sangat ironis, ketika rakyat ingin bersekolah, mereka dipaksa membayar mahal, tetapi utang-utang para konglomerat-konglomerat hitam malah dibebaskan.

Negara adalah penanggung jawab kemajuan masyarakat. Di sinilah kepekaan dan integritas pemerintah sebagai penyelenggara negara tertinggi dapat dilihat. Apakah integritas pemerintah suatu negara bagus atau tidak, secara sederhana, dapat dilihat dari pelayanannya kepada masyarakat. Dan, salah satunya adalah bagaimana usaha suatu negara dapat memberikan kesempatan kepada rakyatnya menjadi cerdas.

Sekolah Gratis
Tidak ada kata rugi untuk sekolah gratis. Rugikah negara menggratiskan biaya sekolah untuk anak-anak bangsanya? Tentu tidak! Bila ada yang berkata rugi, hal itu disebabkan kesadaran terhadap perlunya pendidikan belum baik.

Pendidikan adalah investasi yang sangat berharga. Negara tidak akan rugi jika berkorban untuk pendidikan bangsanya. Sebab, toh jika masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang pandai, Indonesia pun akan menjadi negara yang pandai. Contoh konkretnya adalah negara Jerman.

Sekolah gratis akan memberikan kesempatan yang luas kepada rakyat untuk menuntut ilmu. Negara berarti memberikan kesempatan kepada warganya untuk menjadi lebih baik. Seperti tubuh, pertumbuhan dan perkembangannya akan menjadi baik dan sehat jika selalu diberi nutrisi yang baik. Rugikah bila kita selalu makan makanan yang bergizi?

*. Oka Aditya, aktivis BEM KM-UGM bidang pengembangan SDM 2003-2004


0 Responses to “Rugikah Menggratiskan Sekolah?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: