Archive for the 'jalan-jalan' Category

09
Jun
10

Enjoy Tidore

Begitu sampai di Tidore, langsung menjalankan amanah, istirahat, mandi, bersosialisasi dan lain-lain…

Skip, skip, skip….

***

Kesan pertama saya masuk ke Tidore adalah pulau kecil yang tenang, lengang, tapi memang terasa panas. “Never mind..”, aku berkata dalam hati, namanya juga jalan-jalan di wilayah kepulauan. Tapi mang benar-benar lengang nih pulau..

Setelah menghabiskan waktu hingga lewat isya’ di tempat training, mengisi training sekaligus dapat cerita-cerita menarik mengenai maluku utara dari Dekan Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Ternate (yang juga menjadi pemateri di acara tersebut) saya bersama-sama teman-teman bersiap untuk “hang out” :D. “It,s time to hangout..”, kata saya kegirangan dalam hati. Meski pulau Tidore nampak sangat gelap malam itu, sejak siang ketika kami datang memang aliran listrik sedang padam, saya kira hanya siang itu saja, ternyata berlanjut hingga malam hari. Ketika saya tanya ke teman yang asli Tidore, memang begitu, karena kapasitas listrik terbatas maka aliran listrik bergilir sehari hidup sehari nyala. Dan, ketika saya datang ke Tidore itu pas giliran hari tanpa listrik. Huaaaa……..!!! 😦

Mobil sudah siap, kami bersiap mau pergi. Panitia yang bawa mobil itu bilang, “saya belum ahli banget nyetirnya….”. Ya sudah, saya ambil alih kemudi mobil, OK hang out kita..!!! Hehe… Begitu keluar dari arena training menuju jalan di depanya tidak ada komentar saya yang lain, selain: GELAP. Mala itu Tidore gelap sekali.. Saya sempet merasa nggak beruntung datang ke Tidore saat mati lampu, “i can’t see anything there..” Tapi bagaimanapun saya mencoba menikmati perjalanan itu, coba anda bayangkan, nyetir di jalan yang nggak kita paham dan dalam kondisi gelap gulita, gimana nggak ‘dag-dig-dug’ ini jantung. Saya berjalan sesuai arahan teman yang asli Tidore aja..

Jalan kecil, pas untuk dua mobil papasan, aspal mulus… Naik turun, berkelok-kelok, mengikuti kontur pulau, ada jalan yang benar-benar dipinggir pinggir laut, banyak orang yang memancing kalau sekilas saya liat. Wow…laut lepas, tapi karena gelap saya nggak bisa liat apa-apa, hanya pantulan cahaya langit di permukaan laut aja. Mobil berjalan, tetap menyusuri jalan..

Akhirnya kami bertemu kota Tidore, di sini ada koneksi listrik, lampu-lampu di jalan juga nyala. Wajah kota Tidore jadi nampak, saya ditunjukkan komplek Kraton Tidore, Masjidnya juga.. Terus kantor Bupati dan komplek perkantoran yang lain. Blok-blok kota sudah terlewati, ternyata kami terus lagi, kembali ke jalan-jalan yang gelap, kami malam itu mau menuju rumah seorang teman yang juga ada di dalam mobil bersama kami, istrinya lagi hamil tua, sehingga butuh sentuhan sang suami tercinta. Hehehe…. Ketidaktahuan akan arena perjalanan plus dengan gelapnya kota membuat perjalanan saya malam itu terasa lama.

Sampai juga di rumah teman itu, dia langsung turun untuk menghampiri istrinya, dan kami menunggu saja di mobil. Hmm…bosan juga, lalu kami memilih untuk turun dari mobil. Suasana masih gelap, tapi saya nggak tau kok beberapa rumah nampak terang oleh satu-dua lampu, kata teman sih karena menggunakan lampu charger. Ya..cuma itu aja penerangan yang bisa kami nikmati malam itu, selebihnya gelap. Lihat kiri-kanan, sambil bercanda dengan teman-teman, saya tertegun ketika saya mengadahkan kepala. Pandangan saya tertuju pada langit lepas.. Langit memang nampak gelap, tapi bintang bertaburan. Waa…indah sekali!!! Benar-benar bertaburan, seperti jika kita mengambil segenggam pasir kemudian kita lemparkan ke lantai, seperti itulah bintang-bintang di langit malam itu di langit Tidore. Tuhan benar-benar menghamburkan bintang di langit Tidore malam ini. Saya nampak ‘ndeso’ banget, kepala saya terus menengadah melihat ke langit, “Woww….”, saya bergumam melihat langit dengan taburan bintang malam itu. Indah banget, kalau di Jakarta entah di mana bintang-bintang itu sembunyi.

Malam semakin larut, kami menuju pasar Tidore. Saya masih serasa setengah blank, menyusuri jalan asing dalam situasi gelap gulita. Nampak terang di depan, yup…ternyata itu pasar Tidore yang memang mau kami tuju. Terang, di situ ada aliran listrik ternyata. Kata Ketum HMI Cabang Tidore, “makan duren dulu kita..”. Waaakk….senangnya hatiku! 😀

Kami turun, di depan pasar itu (pasarnya sendiri tutup), ada beberapa penjual durian yang menggelar dagangannya. Pokoknya saya ikut si Ketum aja, dia mau ke mana. Dia pilih berhenti di seorang penjual durian, pilih-pilih, tawar-tawar, akhirnya kami belah duren juga. Mmm….manis, enakk! Kalau beli duren di Tidore nggak usah khawatir duriannya nggak asli manisnya atau matangnya. Pasti asli semua, jadi saya lahap selahap-lahapnya. Biji demi biji durian menunmpuk. Hmmm…..durian asli Pulau Tidore. Nyaammm….. Kulit durian pun sedikit demi sedikit tertumpuk, berbagai ukuran. Kami berlima malam itu, tapi durian sudah habis mendekati 10 buah. Hahaha… 😀

Peserta ‘pesta durian’ berguguran satu per satu. Seorang teman akrab, yang tadi habis jenguk istrinya, memilih durian lagi. Lalu dia bilang, “Ka, kamu harus coba durian pilihan saya..”. Waaak….padahal saya sudah kenyang banget, tapi dia tetap memaksa. Makan juga deh.. satu demi satu, hmm….tetap enak, tapi ya itu kenyaangg! Alhamdulillah habis juga..

Eh, dia malah nambahin. Nantangin ke saya,  “Kuat nggak makan satu lagi…?” katanya. Dia kembali pilih durian, lalu dibuka oleh penjualnya, “Ayo Ka, makan lagii..” Wahh…ini sih bukan makan, tapi “gila-gilaan” Hahaha… 😀

Beneran deh, tuh teman satu itu. Bener-bener nantangin makan duren. Kami berdua sampai tiga kali nambah durianya, padahal yang lain sudah mengibarkan bendera putih. Teman-teman yang lain sudah ketawa-ketiwi aja lihat kami berdua lomba makan durian. Hehehe… “And…the winner is.. OKA ADITYA!!”. Hahaha… Ternyata saya menang sodara-sodara. Dia mennyerah di setengah duren ketiga 😀

***

Bintang bertaburan dan durian gelondongan menjadi kenangan tak terlupa di Tidore. Belum sempat main air. Itu yang membuat saya pengen kembali ke Timur. Keindahan Indonesia yang terlupakan.. Let’s escape to the east!! 🙂

Advertisements
03
Jun
10

Nasi Jamblang, Cirebon.

Cirebon, kota yang sering ku lewati. Maklum, letaknya di pantura, tempat persilangan jalur utara dan selatan. Tapi baru kali ini bisa makan yang namanya makanan tradisional orang Cirebon, Nasi Jamblang. Berangkat dari sebuah undangan mengisi training di HMI Cabang Cirebon, setelah selesai makan deh.. eh, sebenernya itu belum selesai ding. Hehe.. Makan dulu, habis jadwal ngisinya masih entar malem. So, let’s go!!

Jam sudah menunjukkan jam 15.30, tapi aku belum juga makan siang karena habis terjebak macet dua jam lebih di jalur pantura karena ada perbaikan jalan sekitar Indramayu-Subang. Lapar sangat terasa.. Langsung ku todong pengurus cabang, “ayo makan..!!” 😀

Tak lama, kami langsung meluncur ke sebuah rumah makan yang termasuk mewah, model ada rumah-ruamahan gitu. Terus aku langsung bilang, “duh..jangan di rumah makan kaya gini deh. Ini terlalu enak dan mahal, aku pengen yang khas Cirtebon, murah-meriah..” Berpikir sebentar teman-teman yang ngantar saya itu, “Ya’, nasi Jamblang aja..” Langsung kusambut dengan riang gembira, secara sudah lama denger makanan rakyat Cirebon yang tersohor itu.

Akhirnya, naik mobil lagi dan saya dibawa ke sebuah warung makan di deket perempatan apa aku nggak tahu, yg pasti ada BRI (kalau ga salah..). Kata teman-teman itu, tempo hari Bang Akbar juga ke situ. Woww…semakin semangatlah saya makan. Begitu datang, suasana tempat makan lumayan ramai, langsung ambil meja yang cukup untuk berempat. Ups..ternyata model prasmanan gitu. Jadi kita harus menuju meja si penjual dulu.

Yang menarik, nasinya dibungkus daun pohon jati. Si penjual langsung tanya, “nasinya satu atau dua..” Setelah melirik porsi nasi, “Dua Bu..” Lapar bow! Hahaha…. Terus di depan si Ibu ada berbagai hidangan lauk-pauk beraneka ragam, sayang karena datang terlalu sore jadi menu lauk nggak begitu lengkap, tapi tak apa buatku sudah sangat banyak itu hidangan. Ku pilih, tempe goreng dengan tepung, bergedel, sama paru goreng, tak lupa sambal.

Mari kita makan!! Waa…enak, enaakk! Sekilas mang mirip nasi kucing di angkringan, dengan lahap karena lapar juga saya langsung makan, “nyamm…” Eh, lupa.. belum dipoto. Ambil HP dulu, klik-klik, ambil beberapa shoot. Siipp lah!! Makanya tu poto dalam posisi sendok siap sedia. Hahaha…. 😀 Lanjut makan lagi.. Mmm…paru gorengnya dicocol sambel. Mmmm…… Selamat makan!!

Kesimpulan: Nasi yang sangat sederhana, dibungkus daun pohon jati, bisa mewah kalau pilih menunya banyak. hehe.. Murah-meriah! Hard recommended kalau ke Cirebon.

03
Jun
10

Makan Iga Bakar Penyett..

Baru nemu di surabaya! Setelah sekian lama jalan-jalan ke surabaya aku diajak oleh seorang teman untuk makan malam. Yang dia pilihkan adalah IGA BAKAR PENYET, aku pertama menolak. Habis, jauh-jauh ke surabaya masa’ makan iga. Kan udah banyak yang jual iga, dari sop iga, iga bakar dan lain-lain. Jadi ya menurutku biasa aja..

Tapi temen satu ini tetep ngeyel, “enak-enak..”, kata dia berusaha meyakinkanku. Eh, bener juga, pas sampai di tempatnya betul-betul ramai gila. Keluarga-keluarga banyak yang makan juga, makin membuatku penasaran. Begitu masuk pintu kaca, wow..ramenya. Mata kami langsung liat ke kiri-ke kanan mencari tempat yang kosong. Ups..ternyata ada satu meja di deket kasir. Tanpa banyak kata, kami berdua langsung cepat-cepat ke meja yang kosong itu.

OK, meja sudah dapat! Seorang pelayan menghampiri kami, lalu menu digelar. Yup..saatnya memilih. Hmm…menu begitu banyak. Langsung aku tanya, “Yang paling special di sini apa Mas?” Dia jawab, “Iga Bakar Penyet..”, sambil nunjukkan gambar di menu. Nyumm….langsung terbayang. “OK, saya satu.. eh, dua Mas..”, karena temanku memberikan kode untuk menu yang sama.  Terus si pelayan tanya, “Mau sambel yang cukup, pedas, atau ekstar pedas?” Ku jawab dengan mantap, “Ekstra pedas..” Haha.. 😀 Sok PD, padahal belum pernah makan disitu sebelumnya. Dan, untuk minum kami pilih Teh Tarik Dingin. Hmmm….tak sabar menanti.

Nasi datang… Minum menyusul, “srupptt….enak!” Setelah itu yang dinanti datang juga, Iga Bakar Penyet. Dihidangkan dengan cobek besar, sambal merah menantang, dengan lalapan secukupnya, Hmmm…..ada dua cabai yang dipasang, tanpa diulek, di sisi cobek. “Wah..kayanya ini sebagai tanda bahwa pesenanku ekstra pedas kali..” kataku dalam hati.

Ambil daging iga-nya dikit, wow lembut, empukk bgt.. terus coel ke sambalnya. “Mmmm…uenak!” dan tentunya pedes banget. Hehe…

Tak ada kata mundur, terus makan, ambil dengan nasi, nyamm…. Sampai akhirnya sadar, ups..belum dipoto, kan buat blog. Bersihkan tangan pakai tissue, ambil handphone, klik-klik.. ambil beberapa shoot. Makanya itu, kalau liat poto di atas agak bolong sambelnya karena sudah ku makan. Hehe.. 😀 Yap, cukup.. Acara makan lanjut lagi.

Overall: enak, harga menengah, recommended!

catatan: di jakarta juga ada di Kemang, apa nama foodcourtnya lupa, yang pasti foodcourt sebrang foddfest. Selamat mencoba!

23
Feb
10

Indahnya Ternate-Tidore

Sebuah hal yang sangat menyenangkan ketika saya menerima undangan untuk mengisi pelatihan organisasi tercinta di Tidore. Sekitar setahun yang lalu saya mengikuti pelatihan di Ternate dan hanya bisa memandang Pulau Tidore yang persis berada di seberang dari balkon hotel di Ternate, tetapi kali ini saya benar-benar punya kesempatan untuk ke Tidore. Setelah bersiap seperlunya saya berangkat ke bandara Sukarno-Hatta menjelang tengah malam karena memang pesawat terbang menuju Ternate yang langsung hanya terbang sekali sehari berangkat sekitar pukul 1 dini hari dan pesawat akan tiba pukul 6.30 WIT. Kantuk yang tertahankan membuat saya tertidur begitu duduk di dalam kabin pesawat, nomor kursi dekat jendela membuat acara tidur saya semakin lancar saja, belum pesawat take-off pun saya sudah tertidur pulas. Sempat terbangun dan saya lihat makan malam untuk saya sudah ada di meja lipat saya, makan sebentar kemudian tertidur lagi. Tak lama rasanya saya tidur tiba-tiba dari pengeras suara terdengar pengumuman oleh pramugari bahwa pesawat akan segera tiba di Ternate. Kesalnya, perasaan tidur saya baru sebentar karena memang saya pada kondisi sangat lelah setelah seharian berjibaku dengan penatnya pekerjaan di Ibu Kota.
Tak lama kemudian pesawat terbang merendah, birunya lautan maluku semakin nampak, akhirnya mendarat juga pesawat di Bandara Babullah Ternate, masih dengan rasa yang berat saya bangun meninggalkan kursi untuk mencapai pintu pesawat. Dengan langkah gontai saya turuni tangga pesawat sambil sesekali menatap kiri dan kanan.

Oh God..how beautiful!!! Betapa indahnya pemandangan pagi itu! Bandara Babullah berada tepat di pesisir Pulau Ternate, jadi dari bandara kita bisa liat indahnya perairan laut maluku yang biru, nampak jernih, dengan latar pulau-pulau berbaris, ditambah dengan cerahnya langit di pagi itu, sejuk udara terasa sangat berbeda dengan di Jakarta. Sambil menuruni anak tangga pesawat agak lama saya memandang ke arah laut lepas, indahnya.. Benar-benar seperti sebuah lukisan, tak ingin mata ini berkedip memandangnya.

Setelah habis saya turuni anak tangga pesawat saya jalan menjauh dari pesawat dan menatap ke arah terminal bandara. Ups..lagi-lagi saya terkesima! Ternyata latar belakang dari terminal bandara adalah sebuah gunung yang sangat indah, tinggi menjulang dengan puncak yang tertutup kabut cukup tebal pagi itu. Terus saya berjalan ke arah terminal bandara sambil terus memandangi gunung terseut, langit yang membiru pagi itu menambah indahnya Gunung Gamalama tersebut.

Bosan rasanya menunggu jemputan di dalam bandara, saya memilih keluar terminal. Persis ketika saya keluar pintu bandara nampak Gunung Gamalama tersebut, kabutnya semakin menipis, puncaknya semakin kelihatan. Jemputan tak kunjung tiba, sambil menikmati ramainya bandara kecil pagi itu saya masih melirik-lirik pemandangan utama, Gunung Gamalama. Sekarang kabutnya semakin tipis dan turun, sehingga puncaknya semakin nampak. Gunung Gamalama nampak seperti sedang bermahkotakan awan, pemandangan yang sangat indah dan membuat saya terpana. Sambil malu-malu takut ketahuan orang-orang di sekitar saya tetap memandangi gunung bermahkota tersebut.
Tak lama setelah itu teman yang menjemput datang…

-to be continued, perjalanan ke tidore-

26
Jan
09

Corner at my home

Salah satu sudut di rumahku dalam tangkapan kamera..

Belalang tempur

Belalang tempur

Belalang tempur 2

Belalang tempur 2

Belalang tempur 3

Belalang tempur 3

Belalang tempur 4

Belalang tempur 4

Bunga Sepatu

Bunga Sepatu

Gugur Bunga

Gugur Bunga

Teratai

Teratai

Single Purple

Single Purple

Beauty of pink

Beauty of pink

Nice Blossom

Nice Blossom

spring crocus

spring crocus

14
Jan
09

Pesona Kahayan.. Palangkaraya, Kalimantan Tengah

Kahayan, sebuah sungai yang membelah kota Palangkaraya, ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah. Sungai besar yang memperindah pesona kota Palangkaraya yang teduh. Gambar-gambar di bawah ini diambil ketika perjalanan ke Palangkaraya akhir 2008 lalu..

dari-bawah-jembatan3

perahu-di-kahayan1

nelayan-kahayan

santai-aja1

sunset on kahayan
10
Dec
08

Waspada BUSWAY!

busway41

Hari sabtu kemarin (6/12) aku naik busway sekitar jam18.30 dari Blok M. Seperti biasa, antrian panjang dan berjubel di depan antrian pintu masuk. Setelah berjuang cukup lama akhirnya berhasil masuk juga ke sebuah bis. Tidak lama setelah pintu bis ditutup seorang laki-laki nampak kebingungan, kebetulan berdiri dekat aku berdiri, ternyata dia kehilangan dompet.

Setelah lapor ke petugas penjaga pintu lalu petugas tersebut koordinasi dengan supir bis, hasilnya bis tidak akan menerima lagi penumpang di setiap shelter yang dilewati dengan asumsi pencopet ada di dalam bis yang dinaiki. Maksudnya bis dengan orang didalamnya dikarantina gitu. Tentu saja suasana jadi cukup tegang di dalam bis, lebih-lebih setelah seorang penumpang menemukan KTP, kartu ATM, beserta beberapa surat-surat di kantong luar tasnya, dan dia mengaku tidak tahu milik siapa itu. Setelah diamankan oleh petugas penjaga pintu barang-barang tadi semua penumpang ikut-ikut periksa tas bawaanya tetapi hal serupa tidak terjadi.

Setiap penumpang yang akan turun dari bis diperiksa tas dan kantongnya, hingga akhirnya menjelang tosari (semua penumpang yang akan transit ke dukuh atas turun di tosari karena ada perbaikan) seorang petugas patroli busway masuk dan memeriksa banyak penumpang yang turun di tosari termasuk saya, persis meriksa seperti mau masuk bandara jika detektor bunyi. Wah..repot juga itu.

Ini sekedar berbagi cerita aja, semoga teman-teman yang mau jalan-jalan naik busway tetap waspada. Have a nice traveling!




Follow Me on Twitter

October 2017
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 31,096 hits

Top Clicks

  • None

My Pic

let’s talk! :)