Archive for the 'opini' Category

25
Oct
12

Perempuan: Peran Domestik?

Jawapos, Kamis, 15 Des 2005,
Perempuan: Peran Domestik?
Oleh Oka Aditya *
Sungguh menarik memang bila kita membicarakan peran wanita di era modern ini. Di
satu sisi banyak kaum hawa yang merasa bahwa kaumnya juga mampu berperan
layaknya pria. Di sisi lain ada pihak yang mengatakan bahwa peran wanita yang
sebenar-benarnya adalah peran domestik atau peran di dalam rumah.Kaum perempuan selalu teringat akan perjuangan Ibu Kita Kartini. R.A. Kartini
ini selalu dijadikan tonggak kemajuan perempuan Indonesia. Bila perannya
direduksi, perempuan Indonesia akan mengatakan bahwa hal itu mundur ke zaman
sebelum penulis Habis Gelap, Terbitlah Terang tersebut dilahirkan.

Bila kita melihat rumah sebagai acuan, tentu kita akan membayangkan sebuah
keluarga, lengkap dengan ayah, bunda, dan anak-anak. Peran seorang perempuan di
sini tentu sangat besar, tidak kalah besar dengan peran seorang pria. Tiada
keutuhan keluarga tanpa seorang ayah. Begitu pula sebaliknya, tiada terwujud
sebuah keluarga tanpa seorang bunda.

Pria yang kemudian berperan sebagai ayah dan perempuan yang kemudian berepran
sebagai bunda adalah peran yang saling melengkapi. Walau memang ada peran-perang
khusus yang sangat kodrati. Bila melihat hal ini, tidak layak kiranya bila kita
membeda-bedakan peran ayah dan bunda dalam sebuah keluarga.

Mari kita beralih perhatian pada sisi sang anak. Tentu saja, anak berasal dari
peran seorang pria dan perempuan. Banyak ahli yang mengatakan kedekatan seorang
bunda dengan anaknya adalah sebuah hal yang alami.

Maka dari itu, untuk menjaga hubungan yang indah tersebut, sangat dianjurkan
sang bayi mendapatkan ASI eksklusif dari sang bunda. Bila kita runut dari hal
itu, tampak bahwa peran bunda terhadap anaknya lebih besar, terutama untuk
hal-hal yang sangat khusus, seperti melahirkan dan menyusui. Peran khusus inilah
yang sering dijadikan alasan utama bahwa perempuan selayaknyalah konsentrasi di
peran-peran domestik saja.

Alasan yang kedua ialah alasan pendidikan anak. Jika sang suami bekerja dan ibu
juga bekerja di luar rumah, siapa yang harus mengurus, termasuk mendidik,
anak-anak? Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan. Hal itu benar juga
berkaitan dengan hal yang pertama di atas, lalu berlanjut sebaiknyalah seorang
bunda berperan sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Alasan kedua ini yang semakin memperkuat perlunya seorang perempuan konsentrasi
di peran-peran domestik. Selain alasan-alasan lain yang bersifat normatif,
seperti kehormatan perempuan.

***

Ini adalah pengalaman pribadi. Penulis adalah seorang anak yang dibesarkan di
sebuah keluarga yang kedua orang tuanya bekerja. Walau ayah dan bunda berkarir,
tidak ada sesuatu hal pun yang kekurangan, termasuk perhatian kedua orang tua.

Bahkan, kenangan-kenangan indah saat kecil bersama ayah dan bunda masih kuat
tertanam dalam benak. Saya pun merasakan peran bunda sama sekali tidak kurang,
bahkan dirasa lebih besar jika dibandingkan ayah. Dan, dewasa ini penulis sangat
merasakan peran-peran kedua orang tua sangat berefek hingga penulis sebesar ini.

Dari pengalaman tersebut, penulis mengambil sebuah kesimpulan bahwa tidak ada
salahnya sama sekali jika perempuan juga memiliki peran di luar rumah. Banyak
hal yang membuat perempuan harus mengambil peran-peran strategis di luar rumah,
mulai alasan-alasan bersifat idealis, seperti kesetaraan gender, hingga
alasan-alasan yang bertujuan pragmatis, seperti menambah pemasukan bagi
keluarga.

Yang perlu diperhatikan ialah komitmen perempuan itu sendiri terhadap hidupnya.
Siapa pun dia, sebagai apa pun dia, seorang perempuan akan tetap sebagai
layaknya perempuan jika ia memiliki komitmen yang utuh terhadap hidupnya.
Sepenting apa pun pekerjaannya di luar rumah seorang perempuan akan tetap bisa
menjadi seorang bunda yang baik bagi anak-anaknya.

Komitmen inilah yang perlu dibangun bagi perempuan-perempuan Indonesia. Hal ini
tentu saja berkaitan dengan cara pandang perempuan terhadap diri dan sekitarnya.

Aliran individualistik-materialistik yang menaungi gaya hidup hedon-lah yang
sebenarnya merusak generasi manusia, khususnya bagi kaum perempuan.

Banyak kasus di negeri-negeri maju bahwa perempuan-perempuannya berkarir hingga
ia sendiri, dengan kemauan sendiri, terus melajang. Target hidupnya hanyalah
karir mereka. Menikah dan hidup bersama seseorang yang lain, apalagi sampai
mempunyai keturunan, hanyalah hal yang merepotkan. Karir dan penghasilan demi
memuaskan keinginan pribadi itulah, tujuan yang paling besar.

Padahal, sudah menjadi fitrah manusia bahwa pria maupun perempuan akan
menunjukkan kepriaannya, bagi pria, dan akan menampilkan keperempuanannya, bagi
sang perempuan. Penampilan sisi kepriaan dan keperempuanan ini dapat bersinergi
baik jika sang pria, juga perempuan, berada dalam sebuah mahligai bersama, yaitu
keluarga.

Di sini kepriaan dan keperempuanan akan mampu berkembang secara utuh, dewasa,
dan tentu saja lebih konstruktif karena dibangun di atas sesuatu yang disepakati
bersama.

* Oka Aditya, mahasiswa Teknik Fisika UGM

Advertisements
07
Jun
10

masjid dan kesetiakawanan sosial

Jika kata “masjid” disebut maka yang ada di benak kita adalah sholat atau sembahyang dan segala sesuatu yang menjadi atributnya seperti adzan, iqomah, juga jama’ah. Yup..hal itu memang hal yang biasa, dan adzan selalu berkumandang lima kali sehari, mungkin itu pula yang membuatku kita sangat biasa dan nggak terlalu peduli. Padahal jika kita cermati lebih dalam, masjid telah menjadi meeting point bagi banyak orang, dari segala macam asal, dan dari segala lapisan sosial. Semua orang muslim berhak dan boleh untuk ke masjid, karena panggilan adzan memang untuk semua orang muslim tak terkecuali. Maka dari itu masjid selalu menjadi rumah bagi semua orang.

Saat kita mampir di masjid ketika waktu sholat tiba maka berangsur-angsur orang akan menandatangi masjid dan kita bisa berjumpa dengan siapa saja. Ada penjual asongan, ada penjual somay keliling, bisa berjumpa dengan sopir taksi, bisa jumpa orang dari kantor samping masjid itu, dan masih banyak lagi. Semua yang datang ke masjid tidak dibeda-bedakan, semua melepas alas kaki, menuju tempat wudhu, lalu segera mengambil shaf untuk sholat. Shaf-nya pun tanpa menggunakan pembagian, seperti shaf pertama untuk yang pejabat kemudian shaf berikutnya untuk pedagang kecil, semua sama bisa mengambil shaf dimanapun sesuai kedatangan. Ketika selesai sholat pun sama-sama mengucapkan salam, kemudian saling berjabat tangan tanpa melihat baju yang masing-masing sedang kenakan. Suasana yang betul-betul egaliter dan kekeluargaan.

Dalam konteks persatuan bangsa modal tersebut di atas sangatlah penting. Bila selama ini orang banyak menyayangkan pertikaian antar masyarakat sering terjadi, dari yang persoalan sepele perseteruan antar suporter bola, perselisihan antar pelajar atau mahasiswa, sampai perang antar kampung dan antar etnis seperti di cengkareng terakhir yang membuat kita prihatin. Rasanya rasa kebersamaan semakin luntur dan lebih dominan semangat kelompok, etnis, kesetiakawanan (atau solidaritas) yang sempit.

Masjid dengan segala atributnya yang ada bisa menjadi perekat antar masyarakat, baik secara personal maupun secara antar komunitas. Maka dari itu penting kiranya fungsi masjid ditingkatkan, tidak hanya sekedar tempat sholat tapi juga kegiatan-kegiatan setelah sholat tidak kalah pentingnya. Masjid tidak hanya sebagai meeting point tetapi juga membawa yang hadir di situ berada pada ‘frekuensi’ yang sama, maka dari itu akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang untuk bersama pula. Tentu akan banyak hal yang bisa dikerjakan dalam konteks bersama, minimal sekali adalah silaturahim yang terjalin. Maka dari itu adanya meeting, ramah tamah, atau apa pun namanya penting kiranya diciptakan setelah sholat berjama’ah. Saya kira apa lagi kekuatan dari sebuah jama’ah jika bukan karena orang-orang yang di dalamnya, dan kekuatan itu bisa efektif jika saling jalin-menjalin, jalin menjalin bisa tyerjadi jika ada ikatan di antara para jama’ah. Dari situ kita bisa lihat betapa besar potensi kesetiakawanan sosial atau solidaritas yang bisa kita bangun. Jadi Masjid benar-benar bisa memecah kebuntuan komunikasi antar masyarakat dan masjid bisa menjadi bagian dari solusi permasalahan sosial yang ada di masyarakat.

04
Jun
10

Bersyukurlah kalian yang memilih jalan ideologis

Ketika orang lain rela membunuh cuma karena selembar uang
Ketika orang rela mencuri demi HP baru
Bahkan orang rela menjual diri hanya demi penampilan..
Kalian lebih memilih menahan diri, bercukup diri, dan berpuasa.

Ketika banyak orang mengakali anggaran negara dan menghabiskannya demi rumah mewah dan mobil mewah.
Ketika banyak orang memilih menghabiskan uangnya untuk kesenangan sendiri demi refreshing,
Kalian malah habiskan uang kalian yang tak seberapa untuk berbagi bersama orang-orang yang tak beruntung.

Ketika banyak orang takut untuk hidup cuma karena tak punya makanan atau putus cinta. Kalian berikan hidup mu untuk orang-orang yang tertindas..

Wahai kalian yang memilih jalan ideologis, perihalalah ruh suci Tuhan dalam diri mu. Jangan pernah kau kotori, biarkan cahayaNya menerangi jalan kita, menggerakkan kaki dan tangan kita. Biarkan diri kita menjadi rahmat bagi semesta alam..

05
Jan
10

Antara Gus Dur dan Cak Nur

Jujur, berita meninggalnya Gus Dur kemarin tak seperti ketika saya mendengar berita meninggalnya Cak Nur. Saya menerima berita meninggalnya Cak Nur pertama kali melalui sms yang dikirim oleh senior yang saya baca sekitar ashar, seketika setelah terbangun dari tidur karena kelelahan di sekretariat HMI Cabang Bulaksumur. Begitu saya bangun dan membaca sms meninggalnya Cak Nur saat itu pula terasa kaku seluruh badan ini, dan ada sesuatu yang menyentak di dada, sesaat merasa linglung tak percaya. Mungkin itulah karena adanya hubungan emosional, walaupun hanya sekali bertemu beliau di forum terbuka (seminar) tapi saya menggemari tulisan-tulisan Almarhum Cak Nur.

Nurcholis Madjid

Menurut saya, tulisan-tulisan Cak Nur selalu mengajak untuk kita menengok Islam pada tataran yang substantif, sejenak melupakan simbol dan lambang-lambang yang sering dipakai dalam keseharian. Sehingga kita memandang Islam lebih jernih dan akhirnya bisa mengamalkan Islam secara lebih mendalam secara pribadi dan secara sosial tidak sektarian. Kombinasi pikiran Cak Nur yang berdasar pada pemikiran Islam klasik kemudian dikontekskan pada kondisi kekinian Indonesia melahirkan sebuah sintesis pemikiran Ke-Indonesia-an yang menarik. Hal tersebut nampak dari beberapa ungkapan yang masih saja kontroversial hingga hari ini seperti “Islam YES, partai Islam NO” dan “sekulerisasi”. Padahal Cak Nur sering menjelaskan di berbagai forum juga tulisan-tulisannya justru beliau ingin memurnikan Islam (berbeda arti dengan pemurnian-puritan-wahabiah) dan menempatkan Islam pada “maqam-nya” (pada posisinya yang agung), sehingga Tuhan, Allah SWT, tidak diklaim oleh kelompok tertentu lebih-lebih partai politik tertentu dan Cak Nur tak henti-hentinya meyakinkan pada kita semua bahwa Islam bisa menjadi (memang seharusnya menjadi) dasar bagi semua Umat Manusia di Bumi.

Kalau saya tidak salah ingat, di tulisan Cak Nur di Ramadhan terakhir beliau sebelum meninggal pada sebuah media cetak nasional, beliau sekali lagi menyampaikan bahwa puasa adalah sarana latihan manusia untuk sadar akan Kemahahadiran Allah SWT (omnipresent). Dengan begitu manusia akan selalu mawas diri, sadar akan dirinya sebagai manusia, dan terhadap manusia yang lain. Nampak dari situ bahwa Cak nur senantiasa menyampaikan Islam yang lekat dengan kemanusiaan meski berangkat dari hal yang syar’i sekalipun.  Secara implisit Cak Nur ingin menegaskan bahwa syari’at bukan diarahkan semata manusia untuk Khalik-nya, tapi lebih dari itu yaitu untuk sesama manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Abdurrahman Wahid

Apa yang dipikirkan dan dituliskan oleh Cak Nur telah dilaksanakan secara konkrit oleh Gus Dur. Tanpa “ba, bi, bu” seorang Gus Dur mengamalkan kemanusiaan (humanity) dan inter-human atau keberagaman (pluralisme) secara konkrit. Dia begitu sering menyambangi tokoh-tokoh agama lain dan kelompok-kelompok minoritas, seakan Gus Dur tak lagi bersekat bersama mereka. Hal itu terbukti bahwa yang menangisi kepergian beliau bukan saja dari santrinya, kalangan NU, tetapi juga dari umat agama selain Islam dan kelompok-kelompok minoritas yang ada di Indonesia.

Gus Dur ingin benar-benar memberikan sebuah teladan Islam itu “rahmatan lil’alamin”. Komunikasi dengan berbagai kelompok di luar Islam beliau bangun, bahkan dengan Israel sekalipun yang sering dianggap sebagai musuh bebuyutan Umat Islam se-Dunia. Gus Dur ingin membuktikan bahwa Islam bisa maju karena keterbukaan, komunikasi dengan pihak lain, juga kerja sama. Bukan Islam yang berada di “sekte-sekte”, membangun kebanggaan terhadap kelompok sendiri, dan terus mengaji sekaligus mencibir kelompok yang lain. Hal tersebut nampak pada buku beliau yang berjudul “Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita”, bahkan di buku tersebut Gus Dur menyebut bahwa “Tuhan tidak perlu dibela” dimana maksudnya adalah pembelaan terhadap manusia (yang tertindas) jauh lebih penting. Tetapi hari ini nyatanya masih banyak umat Islam indonesia yang berat untuk berpikir terbuka, dengan mengatasnamakan agama  (juga Tuhannya) berbuat sesuka hati kepada orang lain, seakan surga milik kaplingnya sendiri, sehingga akhir hayatnya Gus Dur masih digunjingkan dengan sebutan-sebutan yang tak berdasar oleh sesama umat Islam yang mengaku pelaku Islam kafah.

*bersambung, Insya Allah…

11
Dec
09

Testimoni 2012


Film 2012 berhasil membuat penasaran ribuan penonton di Indonesia. Antrian di depan loket dimana-mana membuat barisan panjang. Film ini dibuat oleh Hollywood berdasar pada prediksi kuno dari suku Maya bahwa akan terjadi akhir dunia pada tanggal 21 Desember 2012. Film ini menggambarkan adanya ‘kiamat’ pada tahun 2012, dimana Bumi beraktifitas jauh diatas normal, terjadi pergerakan kerak bumi yang luar biasa hingga menyebabkan posisi benua bergesar dan tentu saja membuat bencana dasyat bagi manusia yang tinggal diatasnya. Mengapa saya tulis di ‘kiamat’ bukan kiamat, karena di film ini sejatinya memang tidak menggambarkan kiamat, yang artinya berakhirnya kehidupan dunia. Saya pun berfikir, bagaimana mungkin membuat film kiamat, kiamat itu berarti tak ada lagi kehidupan yang tersisa, bagaimana mungkin membuat sebuah film yang berakhir tanpa seorang pun dan kehancuran alam semesta. Prediksi saya benar, ternyata film ini bukan film kiamat, tetapi hanya sebuah bencana sangat besar yang cukup kita sebut ‘kiamat’.

Kekhawatiran MUI tentang peredaran film ini bisa dipahami yaitu alasa kiamat yang tak bisa terprediksikan oleh siapapun karena itu hak prerogratif Allah SWT. Tentu kita semua umat muslim paham hal itu, dan itu menjadi bagian dari keberimanan umat terhadap Allah SWT. Saya pikir tidak ada seorangpun yang mau ‘mengkiamatkan’ diri sendiri, lebih-lebih hanya karena menonton film ini, dan hal ini juga tidak perlu khawatir karena ini hanyalah film ‘kiamat’ bukan kiamat. Tidak ada sebuah gambaran dimana melampaui kekuasaan Allah SWT. Hanya menggambarkan sebuah kondisi alam semesta dimana terjadi aktifitas tektonik dan vulkanik luar biasa yang membuat aktifitas kerak bumi yang ekstrim. Kekhawatiran MUI bahkan ada fatwa haram di beberapa MUI daerah tentu sangat tidak berdasar yang menimbulkan pertanyaan bagi saya, jangan-jangan MUI (yang mengharamkan) belum nonton film tersebut.

Hanya film ‘kiamat’

Seperti saya tulis di atas, 2012 hanya film ‘kiamat’ dan bukan film kiamat, karena memang substansi kiamat tidak ada di situ. Hanya ada bencana super dasyat yang dihadapi oleh umat manusia, bukan kehancuran dunia seisinya yang berarti kiamat. Bahkan dalam film tersebut bencana ini sudah bisa diprediksikan sebelumnya oleh para ahli geologi dan astrofisika. Dimulai dari adanya ledakan besar di matahari yang memancarkan radiasi kuat sehingga memancing aktifitas bumi yang abnormal. Gejala aktifitas bumi abnormal ini terdeteksi dimana-mana sehingga para ahli sudah bisa memprediksikan akan terjadi sebuah gerakan kerak bumi yang kuat bahkan hingga bergeser sehingga posisi benua berubah.

Di film ini masih mengedepankan knowledge superiority, dimana pengetahuan memegang peran utama. Dalam konteks Indonesia saya sangat sepakat dengan hal ini, dimana masyarakat masih banyak yang mengedepankan klenik ataupun prasangka, juga gosip murahan. Pada film itu digambarkan bagaimana ilmu pengetahuan berperan betul dalam menghadapi ‘kiamat’. Dari prediksi awal, lalu berbagai penelitian lanjutan untuk menganalisis fenomena alam yang ada, hingga pembuatan bahtera yang luar biasa besar untuk evakuasi manusia dalam menghadapi bencana tersebut. Film ini lebih mengingatkan kita pada kisah Nabi Nuh, dimana ia membuat bahtera besar untuk menyelematkan manusia dan mengangkut semua jenis hewan, begitu pula bahtera besar yang digambarkan di film 2012 ini. Meski nampaknya sama besar tapi di film 2012 ini bahteranya tidak lagi menggunakan kayu seperti buatan Nabi Nuh melainkan terbuat dari baja, tertutup seperti kapal selam, dan dilengkapi dengan berbagai mesin besar dan peralatan canggih. Semua itu dibuat karena adanya sebuah pengetahuan, sebuah ilmu, dan teknologi yang bisa memprediksikan sebuah bencana kemudia manusia bisa membuat langkah preventif dari situ.

Film 2012 lebih cocok dikategorikan sebagai film fiksi-ilmiah. Film ini lebih mirip film ‘star trek’ dimana film fiksi sebenarnya tetapi alur di dalamnya dibangun di atas alur pengetahuan yang sudah banyak dikenal tetapi pada konteks yang lebih maju dan tentunya itu fiksi. Pada star trek digambarkan kondisi umat manusia tak lagi hidup di bumi tetapi telah berada petualangan antariksa dan pada film 2012 pada kondisi dimana bumi terkena fenomena matahari yang kemudian memancing aktifitas perut bumi yang dasyat. Dalam film-film ini memancing daya imajinasi penonton dan berbagai masalah yang ada itu dijawab oleh pengetahuan dan ilmu manusia. Bukan dengan klenik, bukan dengan prasangka, tetapi menjawab persoalan besar dengan sebuah ilmu yang komprehensif.

Pengembangan pengetahuan, ilmu, dan teknologi hari ini berangkat dari sebuah imajinasi besar manusia dan didorong oleh sebuah niat kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Maka dari itu banyak teknologi yang dianggap biasa sekarang dulunya berangkat dari sebuah impian besar, seperti keinginan untuk terbang, dan hari ini pesawat terbang adalah hal biasa. Film 2012 adalah film tentang bencana tetapi disitu menggambarkan bagaimana usaha manusia dalam menghadapi bencana luar biasa dasyat dengan kemampuannya. Saya pikir ini sebuah gambaran bagaimana manusia menghadapi bencana dasyat dan film ini bisa menjadi titik tolak manusia berpikir jika benar-benar sebuah bencana besar akan terjadi.

Menonton film fiksi-ilmiah seperti 2012 ini jauh lebih produktif dari pada menonton film yang bertema hantu. Bisa diprediksikan apa yang tersisa dari menonton film-film bertema hantu, bayangan wajah seram, suasana temaram mencekam, dan ceceran darah. Jauh dari landasan sains, bahkan secara psikologis juga tak menyisakan sesuatu yang positif bagi penontonnya. Cukup menjadi hiburan bagi penonton yang senang dengan sesuatu cerita-cerita misteri tapi selanjutnya tidak ada. Bila memang bangsa ini masih sadar akan ketertinggalannya dalam dunia pengetahuan, ilmu, dan teknologi, maka ada baiknya disusun sebuah agenda besar dimana hal tersebut mendorong masyarakatnya untuk mencintai pengetahuan itu sendiri, mendorong masyarakatnya terbiasa berfikir logis, sadar akan teknologi, dan selanjutnya mendorong masyarakat melakukan penelitian-penelitian keilmuwan, juga menciptakan teknologi-teknologi baru. Agenda besar itu tidak hanya dijalankan di dalam bangku-bangku sekolah dan kuliah tapi juga harus masuk ke ranah budaya, khususnya sinema dalam hal ini.

Larangan MUI

Adanya dua MUI daerah yang mengeluarkan fatwa harap soal film 2012 tentu membuat pertanyaan besar. Saya pikir MUI terlalu cepat mengambil sikap tanpa melihat utuh bagaimana adanya film ini. Permasalahan kiamat seperti yang diisyaratkan dalam agama Islam jelas bukan yang ingin digambarkan dalam film ini, jadi bila tema kiamat diributkan tentu tak beralasan. MUI harus lebih jeli jika ingin mengeluarkan sikap atau fatwa, karena itu mencerminkan kapasitas dan visi orang-orang yang ada di dalamnya.

Masih banyak film lain yang jauh lebih tak bermutu dan tidak memberikan efek positif pada umat, tetapi MUI tak pernah bersikap. Film-film bernuansa takhayul, opera sabun tak mendidik yang telah seakan menjadi menu wajib masyarakat tak pernah dibicarakan oleh MUI. Tiba-tiba saja MUI berbicara tentang sebuah film fiksi-ilmiah yang menceritakan ‘kiamat’ dengan penilaian haram. Parameter kredibilitas MUI mudah saja untuk ditakar yaitu dengan melihat sejauh mana fatwanya dikeluarkan didengar oleh masyarakat. Seperti fatwa haram MUI tentang film 2012 hari ini tak banyak didengar oleh umat, antrian tetap panjang di banyak bioskop di Indonesia.

Seharusnya MUI lebih luas memandang ketika akan mengeluarkan sikap sekelas fatwa, yang seharusnya ditaati oleh umat. Bagi saya pribadi, jika ada orang yang mengatakan bahwa 2012 adalah kiamat tentu hanya akan jadi bahan tertawaan saja, mungkin tak hanya saya begitu juga banyak orang yang lain. Masyarakat jauh lebih kritis hari ini, tak bisa percaya pada omongan begitu saja. Informasi jauh lebih mudah diperoleh hari ini, masyarakat bisa melakukan kroscek tentang apa yang didengar dengan mudah. Pada kenyataanya film 2012 bukan film kiamat dan telah ribuan orang nonton kekhawatiran MUI sama sekali tak terbukti. Saya tidak pernah mendengar ada komentar yang mencerminkan percaya pada ‘kiamat’ yang digambarkan oleh film tersebut, malah ada cerita teman yang telah nonton film tersebut menjadi rajin pergi ke pengajian, bukan karena percaya akan kiamat 2012 tetapi karena sadar bahwa kecilnya manusia jika alam ini telah marah.

Nampak terlalu kecil MUI jika terus meributkan soal film 2012, masih banyak masalah nyata umat yang harus disikapi oleh MUI. Fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI harusnya fatwa-fatwa yang mendorong kebaikan umat dari segala sisi kehidupan. Fatwa MUI harusnya mampu menjadi pendorong kemajuan umat walau mungkin masih di tataran kultural, tetapi setidaknya itu menjadi energi positif bagi umat. Jika sikap MUI sekelas fatwa hanya menjadi bahan candaan masyarakat karena kurang cermatnya para ulama yang ada di dalamnya tentu akan memalukan lembaga MUI secara khusus dan umat Islam Indonesia secara umum. MUI sebagai lembaga formal tertinggi Umat Islam Indonesia harusnya terbiasa mengambil sikap dengan mempertimbangkan berbagai perspektif dan sebisa mungkin fatwa adalah energi positif untuk masyarakat luas. Apa yang dibicarakan di MUI jangan hanya perbincangan yang berada di menara gading, padahal di sisi lain banyak masalah yang dirasakan oleh umat seperti kemiskinan, ketertinggalan, dan rasa keadilan yang hilang di tengah masyarakat Indonesia. Fatwa MUI sudah seharusnya mampu menjawab berbagai masalah umat tersebut bukan malah membingungkan masyarakat.

Film 2012 hanya sekedar film fiksi-ilmiah yang menarik. Film yang menceritakan dasyatnya fenomena alam yang harus dijawab oleh umat manusia. Di film tersebut digambarkan secara manusiawi bagaimana umat manusia yang ketakutan menghadapi informasi bencana besar yang akan terjadi. Kemudian di film itu juga menggambarkan usaha manusia yang menjawab dasyatnya bencana dengan teknologi dan bagaimana teknologi itu harus bersinggungan dengan dengan materi, bagaimana interaksi teknologi pada ranah sosial-politik yang elitis. Bagi yang suka dengan ilmu alam, seperti fisika, geologi, dan astronomi film ini sangat menggelitik untuk ditonton.

05
Aug
09

Liberalisme HMI ? (sebuah jawaban untuk HTI)

Hizbut Tahrir Indonesia dalam websitenya menulis sebuah artikel berjudul “Liberalisme HMI”. Sebuah kesimpulan yang tak beralasan karena berangkat dari sebuah kekritisan kader HMI di sebuah training di Tasikmalaya, Jawa Barat. HTI harus tau bahwa di sekian banyak organisasi Islam yang ada di Indonesia ini HMI adalah salah satu organisasi yang paling tua yang pernah lahir dan bertahan hingga hari ini. Sejarah panjang dan pergolakan yang ada di tubuh HMI membuat HMI menjadi organisasi yang terbiasa dengan berbagai opini, pendapat, dan pertarungan ide. HMI adalah sekumpulan anak-anak muslim kampus yang memiliki budaya kritis yang tinggi, karena HMI meyakini dan sadar bahwa amal tanpa ilmu adalah kesadaran palsu. Tak bisa seorang insan dihisab amalannya jika ia melakukan amal tersebut tanpa sebuah kesadaran (pengetahuan atau ilmu).

Tak heran dan tak aneh jika dalam setiap forum-forum training HMI selalu ada perdebatan-perdebatan mengenai berbagai hal, termasuk isu-isu Keislaman. HMI sangat menghargai proses yang dijalani oleh kader-kadernya. Nilai kemerdekaan yang ada pada setiap insan yang lahir di dunia sangat dihargai oleh HMI, begitu pula HMI menghargai kemerdekaan setiap kader-kadernya sebagai bagian dari upaya ikhtiyar yang panjang menuju Yang Maha Benar. Sebuah usaha yang tak putus-putus, tak lekang oleh waktu hingga nyawa dicabut dari jasad ini, proses yang berkesinambungan dari hari ke hari untuk mendapat ridho-Nya. Sekali lagi, terlalu cepat bagi HTI untuk menyimpulkan menjadi “Liberalisme HMI”.

Adik-adik saya yang kritis pada forum training itu adalah bagian dari masa depan ummat dan bangsa ini. Mereka sedang dalam upaya melatih diri, mereka sedang asik dengan berbagai pergolakan pemikiran khas anak muda, mereka sedang tumbuh, mereka sedang belajar. Peradaban dibangun dari berbagai macam perpaduan ide dan gagasan. Pada banyak kasus, ide atau gagasan tersebut tidak saja bertemu dengan ramah tetapi juga bertarung untuk akhirnya menjadi bagian dari buah peradaban manusia. Hanya yang merasa hijau yang akan terus berkembang, itulah kader HMI. Melalui kesempatan ini dengan hormat saya pribadi minta kepada Hizbut Tahrir Indonesia untuk memperbaiki artikel tersebut, demi masa depan ummat dan bangsa Indonesia yang lebih baik, insya Allah.

22
Jul
09

INDONESIA BUTUH PEMIMPIN MUDA

ANTARA News Logo

Indonesia Butuh Pemimpin Muda Berideologi

Jakarta (ANTARA News) – Indonesia membutuhkan pemimpin muda yang berideologi untuk membawa bangsa menuju kesejahteraan, keadilan dan kedaulatan.

“Kriteria pemimpin yang dibutuhkan bangsa saat ini adalah yang memiliki ideologi jelas. Yang dimaksud ideologi yang jelas yaitu sistem politik, demokrasi sosial dan ekonomi pasar sosial. Saat ini ideologi tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan baik,” kata tokoh pergerakan kaum muda yang juga pengamat ekonomi, Faisal Basri di Gedung Arsip Nasional Jakarta, Minggu.

Pada acara pembacaan Ikrar Kaum Muda Indonesia, yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda itu Faisal juga mengatakan, sudah saatnya kaum muda Indonesia diberi kesempatan untuk memimpin bangsa.

“Sebab kalau orang yang bermasalah pada masa lalu terus ada di panggung nasional maka bangsa kita akan terbelenggu oleh kesalahan mereka,” katanya pada acara yang dihadiri sejumlah tokoh muda seperti pengamat politik Yudhi Latif, Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti dan Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate, Sukardi Rinakit.

Menurut Faisal, bila tokoh-tokoh lama berusaha terus bertahan pada posisinya maka kesempatan bagi kaum muda untuk menjadi pemimpin bangsa akan tertutup.

“Kesempatan itu tidak akan terbuka karena para tokoh lama ini memutuskan untuk tetap bertahan karena ingin menutupi kesalahannya pada masa lalu,” ujarnya.

Padahal, menurut dia, akan lebih baik bila kepemimpinan bangsa diserahkan kepada kaum muda.

“Serahkanlah pada kaum muda, yang saya yakin sangat luar biasa,” katanya serta menambahkan pernyataannya tersebut tidak dikeluarkan sehubungan pelaksanaan Pemilu 2009.

Lebih lanjut dia mengatakan, sudah saatnya pintu kesempatan dibuka seluas-luasnya bagi kaum muda supaya mereka bisa berpartisipasi aktif dalam politik dengan gagasan yang segar dan progresif.

“Tentunya dengan tidak melupakan konstitusi negara,” katanya.

Pembacaan Ikrar Pemuda Indonesia, yang dihadiri ratusan pemuda lintas profesi, suku dan agama, dilakukan sebagai bukti bahwa kaum muda terpanggil untuk bangkit melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Pelaksanaan kegiatan itu berawal dari keprihatinan kaum muda terhadap kondisi Indonesia saat ini, yang meskipun sudah berulang kali berganti presiden dan kabinet, tidak juga beranjak membaik dan bahkan justru semakin terbelit krisis.(*)
COPYRIGHT © 2007 ANTARA

PubDate: 28/10/07 20:55

Tulisan ini dimuat sebagai pengantar PUSDIKLATPIM HMI 2009




Follow Me on Twitter

October 2017
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 31,096 hits

Top Clicks

  • None

My Pic

let’s talk! :)