Archive Page 2

28
Dec
15

Korea trip (1), persiapan.

Halo-halo… setelah sekian lama diriku tak menulis. Aku mau cerita soal perjalanan ke Korea kemarin, ah ini pun late post sih. Hahaha… Maaappp! Tapi, insya Allah infonya tetap menarik. Buat yang mau pergi ke Korea boleh tulisan ini menjadi salah satu panduan atau rujuakan. Halah… :p

Kita mulai yaa….

Pada suatu hari terjadilah perdebatan yang cukup seru dan menegangkan. Jreng-jreng…. Sebagai bonus, saya dan temen-temen kantor diperkenankan untuk mengajukan perjalanan ke luar negeri. Diberi kesempatan mengajukan 3 pilihan tujuan, seorang temenku yang memang K-pop lover mengajukan Korea menjadi pilihan pertama, sedangkan aku yang ga terlalu suka K-pop ga mau Korea. Ah pasti lebay di korea, aku lebih pilih Jepang. Terlebih ada promo bagi turis luar untuk naik Sinkansen dengan biaya yang jauh lebih murah, apa gitu nama paketnya khusus untuk winter. Ah lupa! Hihihi…

Skip, skip, skip…

Korea terpilih dan akhirnya kami persiapan ke Korea. Pertama yang diurus tentu saja visa, tapi kali ini pengurusan visa sama sekali tidak seru, alias mudah. Pengurusa visa ke Korea terbilang mudah apalagi kami perginya bareng sekantor, surat permohonan dari kantor dan rekening penjamin juga rekening kantor. Hehe.. Ajaibnya ngisi formulirnya mudah, tinggal donwload, yang pergi ke kedutaan hanya 1 orang sebagai perwakilan yang mengantar berkas, terus yang lain ga disuruh datang apa lagi poto dan wawancara. Tidak ada! Syarat yang kami berikan masing-masing orang adalah, copy KTP, copy KTP, sama Paspor diserahkan. Jika ngurus personal pasti diminta rekening pribadi atau slip gaji, ini versi turis Indonesia yang ketemu di Bandara Hongkong.

Nunggu seminggu dan visa korea jadi. Yipppiiieee!!!

Visa1

Persiapan selanjutnya adalah baju. Ya baju harus dipikirkan khusus karena di sana jauh lebih dingin dari pada suhu rata-rata di Indonesia. Saya pergi pada tanggal 21 hingga 25 November 2015 lalu, itu waktu peralihan autumn ke winter. Alias sudah mulai dingin tapi belum salju. Pantau di web prakiraan cuaca sih di rentang 3-12º C. Brrrr…..

Tapi dasar katrok dan menganggap sepele (sadar setelah kedinginan di sana. Hahaha…) saya cuma menyiapkan jaket, rompi rajut, sama syal. Syal itu pun hasil pinjeman. Hehe.. Sedikit info, di ITC Mangga Dua banyak toko yang menjual baju khusus winter loh. Ane aja takjub, di Jakarta ternyata ada toko yang jual perlengkapan winter. Hihihi….

Jangan lupa selanjutnya siapkan won, ya itu mata uang Korea Selatan. Saat saya beli kemarin kurs berada di angka 12 rupiah, alias 1 won sama dengan 12 rupiah. Dengan perjalanan yang ga neko-neko, mau naik subway, makan juga yang biasa, masih bisa beli oleh-oleh buat emak di kampung, budget 1000 won per hari sudah sangat cukup. Buat orang Indonesia naik angkutan umum dianggap tidak keren, jangan berpikir tentang hal ini jika kita pergi ke negara maju seperti Korea. Satu, tentu alasan budget, naik transportasi umum khususnya kereta dan bis kota itu murah dibanding taksi atau sewa mobil. Dua, untuk di Seoul naik subway itu keren. Cewe-cewe ala artis korea mudah ditemukan di subway. Hahahaha… 😀

02
Mar
15

Ketika Pekarangan Rumah Di Atur Orang Lain

Belum genap 2 bulan saya menempati rumah tinggal baru, lebih tepatnya rumah susun. Ya, rusun ini sisa-sisa program 1000 tower yang pernah dicanangkan pemerintah hampir 1 dekade lalu. Kelasnya sama dengann Kalibata City, Gading Nias, Green Pramuka, dan sebagainya yang katanya untuk menarik kelas menengah untuk tinggal di tengah kota. Nama rusunami saya Pancoran Riverside, sesuai namanya memang di samping sungai. Seandainya di Eropa sungguh nikmat tapi ini di Jakarta. Sungai ciliwung nan coklat warnanya. Hehe…

Yang menarik, di seminggu pertama menjelang bulan Februari ada pengumuman tarif parkir. Diumumkan, tarif langganan per bulan, Sepeda Motor 100 ribu, Mobil 250 ribu, dan dikenalan biaya per kartu 50 ribu. Wakss… Apa-apaan ini tarif, menggila. Untungnya ada grup FB penghuni yang saya sudah join sebelumnya, pandangan saya sama dengan penghuni yang lain. KEMAHALAN.

Tepat pada hari minggu di awal Februari penghuni demo, pekerjaan saya di jaman mahasiswa. Wkwkwkwk…. Tak ku sangka dan tak ku kira bakal saya lakukan lagi di RUMAH sendiri. Ternyata selisih sehari sebelumnya, di Kalibata City dan Green Pramuka juga demo soal IPL (iuran pemeliharaan lingkungan). Wah, BM alias pengelola gedung terindikasi dari grup yang sama pula. Owh…memang kacau ini perusahaan BM. Namanya tidak usah saya publish di sini, entar saya kena UU ITE lagi. Tapi emang ——tiitttt—— ——&%^$%^&^#@—— *misuh-misuh*

Biaya IPL yang didemo di Kalibata City itu adanya kenaikan dari 7000/m2 ke harga 9000/m2 (kalau ga salah baca koran). Sedangkan di apartemen saya sudah 13500/m2 + sinking fund 1000/m2 yang harus dibayar di awal selama total 1 tahun, iming2nya diskon 2000 perak utk pembayaran di awal ini saat serah terima. Karena saya ga update soal ginian dan juga karena sertim yang sudah molor 2 tahun lebih tentu kami bayar aja, total 4,3 jutaan saya bayar di awal.

Dengan biaya IPL yang sudah sedemikian tinggi, dibanding dengan rusunami lainnya pihak BM (pengelola) masih saja mengenakan tarif parkir yang di atas rata-rata juga. Menurut saya ini perusahaan BM emang mata duitan banget. Dan, setelah saya pantau di tempat lain ini preseden yang sama, wabil khusus yang ditangani perusahaan BM ini. Parahnya lagi soal parkir yang muahal ini ada pasal yang tertulis di perjanjian pembayaran, “TIDAK ADA JAMINAN MENDAPAT PARKIR” dan “TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS KERUSAKAN DAN KEHILANGAN”. Bangke!

Belum lagi soal listrik sama air, entah berapa lagi ini. Saya dengar dari penghuni yang sudah duluan tinggal di tower 1 tarif listrik dan air sangat mahal di Pancoran Riverside. Tarif listriknya bisnis, padahal jelas-jelas ini rusunami. Banyak keanehan yang terjadi ternyata di bawah kendali BM yang kerja ga bener, adanya minta duit melulu. Tunggu laporan saya selanjutnya….

21
Nov
14

Rugikah Menggratiskan Sekolah?

Untitled

Rugikah Menggratiskan Sekolah?

Oka Aditya *

Jangan hanya menyalahkan orang tua yang menyuruh anak-anaknya pergi ke jalanan untuk mencari sesuap nasi. Keadaan sosial-ekonomilah yang memang memaksa mereka untuk memilih itu, yaitu membiarkan anaknya mengais rezeki di jalanan. Karena pekerjaan orang tua tidak bisa mencukupi kebutuhan, anak-anak mereka harus ikut menopang keuangan keluarga atau malah orang tuanya merelakan anaknya mencari makan sendiri.

Yang pasti, bukan maksud mereka menyiksa anaknya untuk berada di jalanan dan tidak mengenyam pendidikan. Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan sekolah. Sebab, memikirkan makan mereka saja sudah sangat berat.

Kesadaran untuk menyekolahkan anaknya agar tidak seperti bapak-ibunya -yang sekadar memberikan makan sulit- pasti ada. Mereka tahu, jika mengenyam pendidikan, anak mereka akan memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik. Masalahnya, untuk menyekolahkan anaknya di SD saja, mereka harus mengeluarkan uang yang banyak, padahal menyambung hidup lebih penting. Ketiadaan biaya itulah yang menghambat mereka bersekolah.

Lebih Baik
Suatu bangsa maju tidak dipungkiri lagi karena penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Bangsa-bangsa Barat bisa maju seperti sekarang ini juga karena mereka menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bila bangsa kita ingin berubah dari keterpurukan ini, salah satu yang harus diperjuangkan adalah penguasaan masyarakat terhadap iptek.

Bila anak-anak bangsa bisa menguasai iptek dengan baik, kualitas mereka meningkat dan selanjutnya bisa membawa bangsa Indonesia dari keterpurukan. Manusia-manusia yang terdidik akan dapat berperan lebih terhadap bangsanya. Yang pasti, manusia-manusia Indonesia bila menguasai iptek tidak hanya menjadi penonton dan gemar dicekoki barang-barang canggih produksi luar negeri seperti sekarang. Mereka bisa memberikan karya-karyanya, tidak hanya untuk negeri sendiri, tapi mampu terjun di dunia internasional.

Kesadaran untuk mau menuntut ilmu harus terus disuarakan. Anak-anak bangsa seyogianya paham betul betapa pentingnya menuntut ilmu. Kesadaran untuk mau sekolah dan selalu mengembangkan diri harus ditanamkan sejak dini. Dengan begitu, anak-anak bangsa akan senantiasa berkeinginan meningkatkan potensi dirinya.

Kesadaran dari dalam diri sendiri untuk berkeinginan selalu menjadi yang lebih baik adalah suatu sikap mental yang penting. Bukankah manusia yang bisa membuat hari ini lebih baik daripada hari kemarin adalah manusia yang beruntung?

Kenyataan berkata lain karena kesadaran yang dikampanyekan lewat gerakan Ayo Sekolah tidak cukup. Sebab, selain mau, kita juga harus mampu. Meskipun kemauan dan kesadaran itu ada, ketika kemampuan tidak mendukung, tentu hal itu tidak akan terlaksana. Kemampuan untuk bersekolah dipengaruhi keadaan sosial-ekonomi seseorang.

Bagaimana mungkin negara yang sedang sulit makan ini masih bisa memikirkan sekolah. Keadaan riil di masyarakat inilah yang harus diperhatikan. Jadi, yang harus diperhatikan adalah membuat masyarakat menjadi mampu dan atau membuat kesempatan seluas-luasnya untuk dapat menikmati pendidikan bagi segenap masyarakat Indonesia.

Mencerdaskan
Agar bangkit dari keterpurukan dan dapat maju itu, semua harus diawali dari mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Para founding fathers kita benar-benar sadar bahwa kualitas penguasaan terhadap ilmu pengetahuan mempunyai tempat yang strategis dalam perjalanan bangsa ini.

Cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah cita-cita mulia yang tetap relevan sepanjang zaman.

Cerdasnya kehidupan bangsa bisa dicapai bila kesempatan menjadi cerdas itu ada. Kesadaran menjadi cerdas harus didukung kemampuan menjadi cerdas.

Bangsa ini harus mampu mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa. Kebijakan yang betul-betul bijak adalah pemerintah mau membagi anggaran negara untuk mendidik putra-putrinya. Bukan untuk membayar utang-utang yang tidak jelas atau diboroskan untuk kegiatan-kegiatan negara yang tidak menyentuh kehidupan banyak masyarakat. Sangat ironis, ketika rakyat ingin bersekolah, mereka dipaksa membayar mahal, tetapi utang-utang para konglomerat-konglomerat hitam malah dibebaskan.

Negara adalah penanggung jawab kemajuan masyarakat. Di sinilah kepekaan dan integritas pemerintah sebagai penyelenggara negara tertinggi dapat dilihat. Apakah integritas pemerintah suatu negara bagus atau tidak, secara sederhana, dapat dilihat dari pelayanannya kepada masyarakat. Dan, salah satunya adalah bagaimana usaha suatu negara dapat memberikan kesempatan kepada rakyatnya menjadi cerdas.

Sekolah Gratis
Tidak ada kata rugi untuk sekolah gratis. Rugikah negara menggratiskan biaya sekolah untuk anak-anak bangsanya? Tentu tidak! Bila ada yang berkata rugi, hal itu disebabkan kesadaran terhadap perlunya pendidikan belum baik.

Pendidikan adalah investasi yang sangat berharga. Negara tidak akan rugi jika berkorban untuk pendidikan bangsanya. Sebab, toh jika masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang pandai, Indonesia pun akan menjadi negara yang pandai. Contoh konkretnya adalah negara Jerman.

Sekolah gratis akan memberikan kesempatan yang luas kepada rakyat untuk menuntut ilmu. Negara berarti memberikan kesempatan kepada warganya untuk menjadi lebih baik. Seperti tubuh, pertumbuhan dan perkembangannya akan menjadi baik dan sehat jika selalu diberi nutrisi yang baik. Rugikah bila kita selalu makan makanan yang bergizi?

*. Oka Aditya, aktivis BEM KM-UGM bidang pengembangan SDM 2003-2004

05
Aug
14

Mission without Vision: Impossible

20140806-051040-18640161.jpg

Visi-Misi, dua kata yang sering digandengkan tapi tak banyak orang yang paham arti ketika keduanya dipisah. Lebih-lebih ketika pasangan kata itu semakin latah disampaikan saat musim kampanye kemarin. Padahal visi dan misi mempunyai makna yang berbeda pada masing-masing katanya tetapi memiliki relasi yang kuat ketika bersama. Mengapa begitu?
Continue reading ‘Mission without Vision: Impossible’

25
Oct
12

Perempuan: Peran Domestik?

Jawapos, Kamis, 15 Des 2005,
Perempuan: Peran Domestik?
Oleh Oka Aditya *
Sungguh menarik memang bila kita membicarakan peran wanita di era modern ini. Di
satu sisi banyak kaum hawa yang merasa bahwa kaumnya juga mampu berperan
layaknya pria. Di sisi lain ada pihak yang mengatakan bahwa peran wanita yang
sebenar-benarnya adalah peran domestik atau peran di dalam rumah.Kaum perempuan selalu teringat akan perjuangan Ibu Kita Kartini. R.A. Kartini
ini selalu dijadikan tonggak kemajuan perempuan Indonesia. Bila perannya
direduksi, perempuan Indonesia akan mengatakan bahwa hal itu mundur ke zaman
sebelum penulis Habis Gelap, Terbitlah Terang tersebut dilahirkan.

Bila kita melihat rumah sebagai acuan, tentu kita akan membayangkan sebuah
keluarga, lengkap dengan ayah, bunda, dan anak-anak. Peran seorang perempuan di
sini tentu sangat besar, tidak kalah besar dengan peran seorang pria. Tiada
keutuhan keluarga tanpa seorang ayah. Begitu pula sebaliknya, tiada terwujud
sebuah keluarga tanpa seorang bunda.

Pria yang kemudian berperan sebagai ayah dan perempuan yang kemudian berepran
sebagai bunda adalah peran yang saling melengkapi. Walau memang ada peran-perang
khusus yang sangat kodrati. Bila melihat hal ini, tidak layak kiranya bila kita
membeda-bedakan peran ayah dan bunda dalam sebuah keluarga.

Mari kita beralih perhatian pada sisi sang anak. Tentu saja, anak berasal dari
peran seorang pria dan perempuan. Banyak ahli yang mengatakan kedekatan seorang
bunda dengan anaknya adalah sebuah hal yang alami.

Maka dari itu, untuk menjaga hubungan yang indah tersebut, sangat dianjurkan
sang bayi mendapatkan ASI eksklusif dari sang bunda. Bila kita runut dari hal
itu, tampak bahwa peran bunda terhadap anaknya lebih besar, terutama untuk
hal-hal yang sangat khusus, seperti melahirkan dan menyusui. Peran khusus inilah
yang sering dijadikan alasan utama bahwa perempuan selayaknyalah konsentrasi di
peran-peran domestik saja.

Alasan yang kedua ialah alasan pendidikan anak. Jika sang suami bekerja dan ibu
juga bekerja di luar rumah, siapa yang harus mengurus, termasuk mendidik,
anak-anak? Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan. Hal itu benar juga
berkaitan dengan hal yang pertama di atas, lalu berlanjut sebaiknyalah seorang
bunda berperan sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Alasan kedua ini yang semakin memperkuat perlunya seorang perempuan konsentrasi
di peran-peran domestik. Selain alasan-alasan lain yang bersifat normatif,
seperti kehormatan perempuan.

***

Ini adalah pengalaman pribadi. Penulis adalah seorang anak yang dibesarkan di
sebuah keluarga yang kedua orang tuanya bekerja. Walau ayah dan bunda berkarir,
tidak ada sesuatu hal pun yang kekurangan, termasuk perhatian kedua orang tua.

Bahkan, kenangan-kenangan indah saat kecil bersama ayah dan bunda masih kuat
tertanam dalam benak. Saya pun merasakan peran bunda sama sekali tidak kurang,
bahkan dirasa lebih besar jika dibandingkan ayah. Dan, dewasa ini penulis sangat
merasakan peran-peran kedua orang tua sangat berefek hingga penulis sebesar ini.

Dari pengalaman tersebut, penulis mengambil sebuah kesimpulan bahwa tidak ada
salahnya sama sekali jika perempuan juga memiliki peran di luar rumah. Banyak
hal yang membuat perempuan harus mengambil peran-peran strategis di luar rumah,
mulai alasan-alasan bersifat idealis, seperti kesetaraan gender, hingga
alasan-alasan yang bertujuan pragmatis, seperti menambah pemasukan bagi
keluarga.

Yang perlu diperhatikan ialah komitmen perempuan itu sendiri terhadap hidupnya.
Siapa pun dia, sebagai apa pun dia, seorang perempuan akan tetap sebagai
layaknya perempuan jika ia memiliki komitmen yang utuh terhadap hidupnya.
Sepenting apa pun pekerjaannya di luar rumah seorang perempuan akan tetap bisa
menjadi seorang bunda yang baik bagi anak-anaknya.

Komitmen inilah yang perlu dibangun bagi perempuan-perempuan Indonesia. Hal ini
tentu saja berkaitan dengan cara pandang perempuan terhadap diri dan sekitarnya.

Aliran individualistik-materialistik yang menaungi gaya hidup hedon-lah yang
sebenarnya merusak generasi manusia, khususnya bagi kaum perempuan.

Banyak kasus di negeri-negeri maju bahwa perempuan-perempuannya berkarir hingga
ia sendiri, dengan kemauan sendiri, terus melajang. Target hidupnya hanyalah
karir mereka. Menikah dan hidup bersama seseorang yang lain, apalagi sampai
mempunyai keturunan, hanyalah hal yang merepotkan. Karir dan penghasilan demi
memuaskan keinginan pribadi itulah, tujuan yang paling besar.

Padahal, sudah menjadi fitrah manusia bahwa pria maupun perempuan akan
menunjukkan kepriaannya, bagi pria, dan akan menampilkan keperempuanannya, bagi
sang perempuan. Penampilan sisi kepriaan dan keperempuanan ini dapat bersinergi
baik jika sang pria, juga perempuan, berada dalam sebuah mahligai bersama, yaitu
keluarga.

Di sini kepriaan dan keperempuanan akan mampu berkembang secara utuh, dewasa,
dan tentu saja lebih konstruktif karena dibangun di atas sesuatu yang disepakati
bersama.

* Oka Aditya, mahasiswa Teknik Fisika UGM

20
Jan
12

RELAWAN MUDA INDONESIA

Do you care??     YES, WE CARE!!!

Mulai dari hal yang kecil dan sederhana untuk sekitar kita

Kami sudah mulai, ada yang mau gabung?

 

informasi lebih lanjut bisa dilihat di: http://relawanmudaindonesia.com/

17
Jun
11

Meet the business leader, Sandiaga Uno.

Kuliah Sandiaga Uno, Meet the business leader…